miércoles, 24 de septiembre de 2014

PENENTUAN KESEGARAN SUSU



BAB I
PENDAHULUAN

1. 1  Latar Belakang
Dasar ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu karena air susu adalah bahan baku dari semua produk susu. Susu, sebagian besar digunakan sebagai produk pangan. Dipandang dari segi gizi, susu merupakan makanan yang hampir sempurna dan susu merupakan satu-satunya sumber makanan segera setelah kelahiran. Susu didefinisikan sebagai sekeresi dari kelenjar susu binatang yang menyusui anaknya.
Susu merupakan minuman yang dianjurkan karena mengandung semua zat makanan, terutama proteinnya yang bernilai tinggi. Sebagai salah satu zat yang disekresikan oleh kelender mamae. Susu sebagian besar terdiri dari air 87 % dan sisanya merupakan zat padat yang terdiri dari protein, lipid, karbohidrat, vitamin, enzim, asam-asam organik dan sejumlah asam-asam anorganik. Namun demikian, komponen yang paling menonjol dalam susu adalah protein dan karbohidrat. Protein pada susu ada yang terdapat sebagai enzim, yaitu schardinger. Karbohidrat pada susu adalah laktosa, dimana laktosa ini mengandung aldehid yang disebut aldosa. Oleh enzim shardinger, aldosa dioksidasi menjadi asam-asam karboksilat.
            Pengujian mutu susu dapat dikerjakan dengan menentukan sifat-sifat fisisnya, sifat-sifat kimiawinya, dan pengujian biologik susu.  Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh pada kesegaran susu diantaranya adalah pH dan suhu. Suhu berpengaruh besar pada susu, suhu yang tinggi menyebabkan enzim yang bekerja pada susu menjadi kurang aktif. Untuk itu dalam percobaan ini akan ditentukan kesegaran susu dengan memperhatikan waktu yang diperlukan untuk memutihkan kembali susu yang berwarna biru setelah penambahan metilen biru.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah mempelajari dan mengetahui cara penetapan kesegaran susu dengan menggunakan uji metilen biru sebagai indikator.

1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini antara lain :
1.      Menentukan pengaruh pemanasan terhadap kesegaran susu.
2.      Menentukan pengaruh penambahan formaldehid terhadap kesegaran susu.

1.3 Prinsip Percobaan
Penetapan kesegaran susu berdasarkan enzim schardinger yang terdapat dalam susu yang mengkatalisis oksidasi formaldehid menjadi asam-asam dalam suasana anaerob yang terlihat dari perubahan warna dari biru karena penambahan metilen biru sehingga menjadi putih.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Susu adalah suatu sekresi yang komposisinya sangat berbeda dari komposisi darah yang merupakan asal susu. Misalnya lemak susu, casein, laktosa, yang disintesis oleh alveoli dalam ambing, tidak terdapat di tempat lain mana pun dalam tubuh sapi. Sejumlah besar darah harus mengalir melalui alveoli dalam pembuatan susu yaitu sekitar 50 kg darah dibutuhkan untuk menghasilkan 30 liter susu. Hormon yang mempengaruhi keluarnya susu dilepaskan kedalam aliran darah                (Buckle dkk, 1987).
Faktor yang mempengaruhi komposisi susu adalah sebagai berikut       (Buckle dkk, 1987):
a.       Jenis ternak 
Komposisi susu pada suatu jenis ternak tertentu. Misalnya jenis-jenis sapi yang berbeda akan menghasilkan susu dengan komposisi keseluruhan yang agak berbeda. Perbedaan yang tersebar dijumpai pada kandungan lemaknya. Jenis Guernsey dan Jersey memberikan susu dengan kandungan lemak yang lebih tinggidibandingkan dengan jenis Ayshire
b.      Waktu pemerahan
Unsur laktosa dan protein dalam susu relatif konstan dan menunjukkan keragaman yang kecil bila pemerahan dilakukan pada siang hari. Tetapi kandungan lemak susu mungkin berbeda jika pemerahan dilakukan pada pagi hari dan kemudian pada sore hari. Susu yang diperah pada pagi hari mungkin mengandung  0,5 % lebih banyak. Semakin teratur jarak antara pemerahan, maka semakin teratur pula kandungan lemak pada susu tersebut.
Sifat-sifat fisik dan kimiawi susu adalah sebagai berikut  (Buckle dkk, 1987):
a.       Kerapatan
Kerapatan susu bervariasi antara 1,0260 dan 1,0320 pada susu 20 C. keragaman ini di sebabkan karena perbedaan kandungan lemak dan zat-zat padat bukan lemak. Kerapatan susu berangsur-angsur meningkat dari zat pemerahan dan mencapai maksimum pada 12 jam sesudah pemerahan.
b.      pH
            pH susu segar  berada diantara pH 6,6-6,7 dan bila terjadi cukup banyak pengasaman oleh aktivitas bakteri.
Produk-produk susu adalah sebagai berikut (Buckle dkk, 1987):
a. susu homogen adalah susu yang telah di proses untuk memecah butiran lemak sedemikian rupa sehingga setelah 48 jam penyimpanan tanpa adanya gangguan pada suhu 10-15 C tidak  terjadi pemisahan krim pada susu.
b. susu krim dan susu krim adalah bagian susu yang tertinggal sesudah krim diambil sebagian atau seluruhnya. Susu skim mengandung semua zat makanan dari susu kecuali lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.
Produk susu kering atau tepung susu dibuat sebagai kelanjutan dari proses penguapan. Biasanya kadar air dikurangi sampai dibawah 5 % dan sebaiknya harus kurang dari 2 %. Susu utuh, atau susu skim dan bahkan campuran dari keduanya dapat dikeringkan, dan proses itu juga dapat diterapkan pada produk sampingan susu seperti whey dan susu mentega. Tepung susu biasanya diproduksi dengan salah satu dari dua proses yang sudah dikenal yaitu sistem silinder dan proses semprot     (Buckle dkk, 1987).
            Pengaruh pengolahan susu yaitu iderla bagi pertumbuhan bakteri oleh karenanya untuk membuatnya aman dan untuk memperbaiki keawetannya, susu biasa diolah sebelum dijual. Semakin intensif panas pada susu, akan semakin besar pula  vitamin yang hilang. Pasteurisasi merupakan perlakuan panas yang sedang dibanding dengan sterilisasi (Sherrington, 1992).
            Lemak dari susu dapat dipisahkan dari komponen lain dengan baik melalui proses pengocokan dan churning. Mentega sendiri merupakan emulsi air dalam minyak dengan kira-kira 18 % air tesdirpersi  di dalam 80 % lemak dengan sejumlah kecil protein yang bertindak  sebagai zat pengemulsi. Lemak susu terdiri dari trigliserida-trigliserida  butirodiolein, butiropalmitoolein, oleidipalmitan, dan sejumlah kecil triolein. Lemak susu dapat dibiarkan menjadi asam secara spontan atau dapat diasamkan dengan penambahan pupukan murni bakteri asam laktat pada lemak susu yang manis yang telah dipasteurisasikan sehingga memungkinkan terjadinya fermentasi. Lemak susu dinetralkan dengan garam-garam karbonat kemudian di pasteurisasi (Winarno, 1992).
            Secara organoleptik susu akan mengalami perubahan jika terdapat perbedaan warna, rasa, dan  aroma dari susu yang normal. Umumnya perubahan ini disebabkan oleh adanya aktifitas mikroorganisme dengan penyimpangan aroma yang normal. Rasa dan aroma susu pasteurisasi dalam penelitian ini masih  normal dan mempunyai rasa sedikit manis sampai penyimpanan selama 21 jam. Perubahan rasa dan aroma terjadi pada penyimpanan lebih dari 21 jam, hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah kuman susu dengan bertambahnya masa simpan. Dalam penelitian ini warna susu pasteurisasimasih normal, yaitu putih kekuningan (Abubakar dkk., 2001).
            Berbagai macam mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang dengan cepat pada kondisi kamar, sehingga  penanganan awal setelah pemerahan merupakan perlakuan untuk menjaga kesegaran dan keawetan air  susu. Pada dasarnya susu yang keluar dari  ambing relatif steril (Zubaidah dkk, 2010).







  



BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini ialah susu cair, larutan indikator metilen biru 0,02 %, larutan formaldehid normal 0,5 %, vaselin, akuades, air es, tissue roll,  sabun cair dan korek api.

3.2 Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini ialah tabung thunberg, rak tabung, gegep, inkubator, pipet tetes, oven, sikat tabung, penangas air.

3.3 Prosedur
Tiga buah tabung thunberg diisi dengan 5 mL susu pada setiap tabung, kemudian tabung pertama diisi susu dan dipanaskan. Sedangkan pada tabung kedua dan ketiga tidak diadakan perlakuan.  Selanjutnya  ditambahkan 10 tetes Metilen biru 0,02 % pada setiap tabung. Sebanyak 1 mL     formaldehid  0,5 % dipipet ke bagian dalam tutup tabung thunberg pada tabung pertama dan kedua, sedangkan pada tabung ketiga dipipet 1 mL akuades. Lalu  dinding tutup tabung diolesi dengan vaselin lalu ditempatkan pada tempatnya sehingga lubang pada tutup tersebut tepat pada pipa samping. Setelah itu ketiga tabung divakumkan dengan tabung tetap dalam air es (udara dari dalam tabung dihirup dan tutupnya diputar hingga tidak sejajar lagi dengan lubang samping). Ketiga tabung ditempatkan dalam inkubator dengan suhu 40 oC selama 5 menit.  Kemudian  isi tabung dengan isi yang berada dalam tutup dicampurkan, Lalu pemanasan diteruskan dalam inkubator.  Perubahan yang terjadi diamati pada setiap tabung sampai warna larutan pada tabung menjadi putih.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tabel Pengamatan
waktu
Tabung 1
Tabung II
Tabung III
5
+++
++
++
10
++
++
++
15
++
++
++
20
++
++
++
25
++
++
+
30
++
++
+
35
++
++
+
40
++
++
+
45
++
++
+
50
++
+
-
55
++
+
-

KETERANGAN:  -   Biru      tua (+++)
-          Biru  (++)
-          Biru muda (+)
-          Putih (-)
                       

1. Mulai pencapuran sampai hilangnya warna biru memerlukan waktu
     Tabung I       : 55 menit
     Tabung II     : 55 menit
     Tabung III    : 55 menit
2. Tabung yang berubah warna menjadi putih adalah Tabung III
3. Tabung yang terakhir beubah warna menjadi putih adalah Tabung I

4.2 Pembahasan
Pada percobaan penetapan kesegaran susu, dengan metode tertentu yang ditandai melalui pengaruh penambahan formaldehid sebagai substrat, penambahan metilen biru sebagai akseptor hidrogen, dan pengaruh pemanasan, reaksinya berlangsung secara anaerob dan dapat ditunjukkan bila ada akseptor hidrogen yang sesuai seperti metilen biru. Jalannya reaksi dapat dilihat dari perubahan warna biru (bentuk oksidasi) menjadi tak berwarna (bentuk reduksi). Reaksi ini biasanya berlangsung dalam tabung Thunberg. Disini digunakan tabung Thunberg sebab sesuai dengan sifat reaksi dari susu yang anaerob dan masing-masing tabung yang digunakan diberi perlakuan yang berbeda-beda sehingga terlihat perbedaan dari waktu perubahan yang digunakan. 
Pada susu segar terdapat enzim Schardinger yang merupakan suatu enzim yang mempunyai pengaruh dalam penentuan kadar kesegaran suatu susu, karena enzim ini dapat mengoksidasi aldehid menjadi asam karboksilat. Larutan metilen biru pada percobaan ini digunakan sebagai indikator warna, sekaligus sebagai akseptor atom H yang terdapat pada asam karboksilat yang merupakan hasil dari reaksi antara formaldehid dengan enzim aldehid oksidase. Penyerapan atom H oleh metilen biru menyebabkan campuran tersebut kembali berwarna putih.
Pada percobaan ini akan ditentukan kesegaran susu berdasarkan enzim Schardinger yang terdapat dalam susu tersebut. Dimana susu yang digunakan adalah susu segar murni yang langsung berasal dari sapi. Kali ini digunakan tabung Thunberg karena ada beberapa perlakuan seperti penambahan formaldehid dan air pada tutup tabungnya yang nantinya akan dicampur sehingga kita tidak menggunakan tabung reaksi biasa juga mengingat bahwa reaksi ini berjalan secara anaerob sehingga kontak dengan udara bebas harus diminimalisir disamping udara bebas juga mengandung banyak mikroba yang nantinya akan mengkontaminasi susu sehingga mempengaruhi jalannya reaksi. 
Sebanyak 3 buah tabung Thunberg disiapkan dan masing-masing diisi dengan 5 mL susu segar. Salah satu faktor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu pemanasan. Hal ini dapat ditunjukkan dalam percobaan, dimana tabung yang dipanaskan tidak mengalami perubahan warna, ini disebabkan karena enzim dalam susu rusak akibat pemanasan. Hal ini terjadi seperti pada tabung pertama. Tabung I dipanaskan dengan tujuan untuk menonaktifkan enzim yang terdapat dalam susu tersebut dan kemudian ditambahkan metilen biru (Mb) sehingga terjadi perubahan dari warna putih menjadi biru muda.  Penambahan Mb disini berfungsi sebagai akseptor hidrogen yang mana dalam susu akan berubah jadi putih bila tereduksi Schardinger oleh enzim dalam susu tersebut.
Pada tabung I dan II ditambahkan formaldehid netral 0,5 % dengan tujuan untuk memberikan zat (sebagai substrat) yang nantinya akan dioksidasi oleh enzim yang terdapat dalam susu tersebut. Formaldehid memberikan gugus aldehid yang dapat dioksidasi oleh enzim Schardinger. Pada tabung II setelah ditambahkan Mb 0,02 % terjadi perubahan warna dari biru pekat menjadi puti kebiruan  dan pada tabung III juga mengalami perubahan dari biru menjadi  putih. Pada tabung III ditambahkan akuades yang bertujuan sebagai pembanding terhadap tabung I dan tabung II yang ditambahkan formaldehid berupa perbandingan kecepatan reaksi saat enzim Schardinger bekerja tanpa substrat dan bekerja dengan menggunakan substrat (formaldehid)  yang dapat dilihat dari waktu yang digunakan untuk berubah warna dari biru menjadi putih. Selanjutnya, masing-masing dinding tutup tabung dioleskan dengan vaselin agar udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam tabung dan agar memudahkan kita untuk membuka tutup tabung meskipun telah terkena oleh air. Setelah itu ketiga tabung dimasukkan dalam air es dan kemudian divakumkan dengan cara menghisap udara yang terdapat dalam tabung karena reaksi ini berlangsung secara anaerob yang tidak membutuhkan udara luar (tidak membutuhkan oksigen). Saat divakumkan tutup dari tabung diputar agar udara tidak masuk lagi dan supaya enzim Schardinger dapat aktif. Pemvakuman dilakukan pada air es agar proses pemvakuman berlangsung dengan baik.
Ketiga tabung dimasukkan dalam inkubator pada suhu 40 oC karena pada suhu tersebut enzim bekerja dengan aktif. Setelah 5 menit, ketiga cairan tutup tabung secara bersamaan dicampurkan dengan campuran susu dan metilen blue (Mb) kemudian dihomogenkan. Kemudian dihitung waktu yang diperlukan untuk berubah warna menjadi putih kembali di dalam inkubator 40 oC. Tabung I tidak mengalami perubahan  dibandingkan ketiga tabung karena adanya pemanasan yang dilakukan sehingga mengakibatkan enzim dalam susu tidak bekerja aktif dan akhirnya tidak dapat mengoksidasi aldehid dengan baik. Tabung II berubah warnanya karena tidak dilakukan pemanasan sehingga enzimnya bekerja dengan baik ditambah dengan adanya substrat berupa formaldehid.  Hal ini sesuai dengan teori dimana akuades yang digunakan disini susah untuk mengoksidasi aldehid menjadi asam. Dalam hal ini terdapat dua tahap sebelum aldehid menjadi asam. Adapun tahap tersebut yaitu aldehid akan bereaksi dengan air menjadi alkohol primer kemudian tahap selanjutnya mengalami oksidasi menjadi asam karboksilat. Untuk itu waktu yang dibutuhkan cukup lama.

4.3 Reaksi
Adapun reaksi yang terjadi pada percobaan ini yaitu :
Redoks:          

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan
            Berdasarkan percobaan ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa
1.      Proses pemanasan seperti yang dilakukan pada tabung pertama akan mengakibatkan enzim yang terdapat di dalam susu menjadi tidak aktif.
2.      Dalam proses penetapan kesegaran susu, akan terjadi oksidasi senyawa aldehid yang dikandung dalam susu menjadi asam karboksilat dan akan terjadi reduksi pada metilen biru yang merupakan akseptor hidrogen. Enzim pada susu dapat mengkatalisis oksidasi formaldehid dengan indikasi perubahan warna pada metilen biru.

5. 2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Laboratorium
            Alat yang digunakan sudah memadai dan ruangan laboratorium yang cukup baik.

5.2.2 Saran Untuk Percobaan
Bagaimana kalau pada percobaan ini digunakan juga susu kemasan, agar bisa dibandingkan hasilnya dengan susu segar. Selain itu sebaiknya digunakan metoda lain sebagai pembanding.
DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, Triyantini, R., Sunarlim, H., Setiyanto, dan Nurjannah, 2001,      Pengaruh Suhu dan Waktu Pasteurisasi Terhadap Mutu Susu Selama Penyimpanan, Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, 6 (1): 45-50.

Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., dan Wootton, M., 1987, Ilmu Pangan, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Sherrington, K.B., dan Gaman, P.M., 1992, Ilmu Pangan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Winarno, F.G., 1992, Kimia Pangan Dan Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Zubaidah, E., Kusnadi,J., Setiawan, P., 2010, Studi Keamanan Susu Pasteurisasi Yang Beredar di Kotamadya Malang (Kajian Dari Mutu Mikrobiologis dan Nilai Gizi), 2010, Jurnal Teknologi Pertanian,  3 (1): 29–34.












                 
  
                                           














                                         
LEMBAR PENGESAHAN













Asisten


AGUSTIANI
Praktikan


YUNITA PARE ROMBE
                                                    Makassar, 24 APRIL 2014



Lampiran 1. Bagan Kerja Penetapan Kesegaran Susu
Tabung III

Tabung II

Tabung I
                         
-       Dimasukkan 5 mL susu
-       Diteteskan 1 tetes Mb 0,02 %
-       Dimasukkan kedalam penutupnya 1 mL Formaldehid     0,5 %
-       Tutup tabung dioleskan dengan vaselin
-       Didinginkan dalam es selama 5 menit


-       Dimasukkan kedalam inkubator dengan suhu    40 oC selama 5 menit
-       Dikeluarkan dan larutan di penutup dicampurkan ke dalam tabung
-       Dikocok dan dihomogenkan
-       Dimasukkan kembali ke dalam inkubator
-       Diperhatikan perubahan warnanya setiap 5 menit selama 30 menit
Data
-     Dimasukkan 5 mL susu
-       Diteteskan 1 tetes Mb 0,02 %
-     Dimasukkan kedalam penutupnya 1 mL akuades
-     Tutup tabung dioleskan dengan vaselin
-     Didinginkan dalam es selama 5 menit

-       Dimasukkan 5 mL susu
-       Dipanaskan dengan penangas hingga mendidih
-       Diteteskan 1 tetes Mb 0,02 %
-       Dimasukkan kedalam penutupnya 1 mL Formaldehid 0,5 %
-       Tutup tabung dioleskan dengan vaselin

 






















Lampiran 2 
Gambar
Gambar 1.  Sebelum di msukkan ke dalam inkubator



Gambar 2. Sesudah di amati perubahannya selama 55 menit dalam inkubator

PENENTUAN KESEGARAN SUSU

BAB I PENDAHULUAN 1. 1   Latar Belakang Dasar ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu karena air susu adala...