miércoles, 24 de septiembre de 2014

REAKSI–REAKSI LOGAM



LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ANORGANIK
PERCOBAAN IV
REAKSI–REAKSI LOGAM
NAMA                                     : YUNITA PARE ROMBE
NIM                                          :  H311 12 012
KELOMPOK/REGU               :  III(TIGA)/III(TIGA)
HARI/TANGGAL  PERC.     :  SELASA/25 FEBRUARI 2014
ASISTEN                                 :  SARWINA HAFID



 













LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Terdapat berbagai macam unsur di bumi dengan bentuk dan jenis yang berbeda-beda pula. Dari sekian banyak unsur yang ada dan diketahui, kebanyakan unsur-unsur tersebut berjenis logam. Logam merupakan suatu susunan yang mampat dan stabil. Ada beberapa logam seperti logam alkali yang mempunyai susunan kerapatan  berpusat pada badan dan mempunyai bilangan koordinasi 8. Logam merupakan penghantar listrik dan panas yang baik, dapat ditempa, dan dapat memancarkan sinar. Biasanya unsur-unsur logam bereaksi dengan unsur-unsur logam yang lain, membentuk berbagai alloy seperti halnya logam dan memiliki sifat logam.
Logam memiliki daya reduksi masing-masing terhadap suatu oksidator. Logam alkali dan alkali tanah memiliki kereaktifan masing-masing terhadap akuades. Unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah bersifat reaktif. Logam alkali memiliki satu elektron valensi sehingga sangat mudah melepaskan elektron      (energi ionisasinya kecil) sedangkan logam alkali tanah memiliki jari-jari atom yang besar dan harga energi ionisasi yang kecil, sehingga unsur-unsur golongan alkali tanah mudah melepaskan elektron.
Reaksi redoks adalah reaksi yang mengandung dua peristiwa                 (oksidasi dan reduksi)   yang berlangsung secara serentak dan merupakan gabungan dari reaksi oksidasi dan reaksi reduksi.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui sifat oksidasi reduksi logam serta kereaktifan logam alkali tanah.

1.2.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1.        Menentukan sifat reduksi oksidasi dari logam Al, Fe,  Zn dan Cu terhadap iodin.
2.        Menentukan kereaktifan logam  alkali tanah (Magnesium dan Kalsium).

1.3 Prinsip Percobaan
             Prinsip dilakukannya percobaan ini adalah penentuan sifat reduksi oksidasi logam  dengan mereaksikan dengan logam Fe, Zn, Al dan Cu dengan serbuk iodin kemudian ditetesi akuades. Menentukan kereaktifan logam alkali tanah (Mg dan Ca) dengan akuades melalui proses pemanasan dan ditambahkan indikator PP untuk mengetahui kereaktifannya.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Reduksi adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya suatu elektron atau lebih oleh zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini dioksidasi. Definisi reduksi ini  umum dan berlaku  untuk proses dalam zat padat, lelehan maupun gas            (Svehla, 1985).
Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau lebih  dari dalam zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi, keadaan oksidanya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron dan dalam proses itu zat itu direduksi. Definisi oksidasi ini juga sangat umum dan berlaku juga untuk proses dalam zat padat, lelehan maupun gas (Svehla, 1985).
Logam alkali tanah berwarna putih keperakan dan mempunyai densitas relatif rendah, dan semakin besar dengan naiknya nomor atom, kecuali kalsium. Ikatan metalik logam alkali tanah lebih kuat daripada ikatan metalik logam alkali. Titik leleh dan kekerasan logam alkali tanah juga lebih besar daripada logam alkali. Walaupun densitas logamnya naik dengan naiknya nomor atom seperti halnya dengan logam-logam alkali, titik leleh dan entalpi atomisasi hanya berubah sedikit  saja, berbeda dari titik leleh dan entalpi atomisasi logam-logam alkali. Logam- logam alkali tanah semakin reaktif dengan naiknya nomor atom, sebagai contoh magnesium tidak bereaksi dengan air dingin tetapi berekasi lambat dengan air panas untuk menghasilkan magnesium hidroksida  dan gas hidrogen (Sugiarto dan suyanti, 2010).
Logam alkali tanah kurang reaktif, atau kurang elektropositif dibandingkan dengan logam alkali, namun lebih reaktif  (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Ion logam alkali tanah selalu mempunyai tingkat oksidasi +2 dan senyawanya bersifat stabil, padatannya bersifat ionik, tidak berwarna kecuali jika anioniknya berwarna. Sebagian sifat kovalen di jumpai pada senyawa magnesium, terlebih-lebih senyawa berilium didominasi oleh ikatan kovalen. Garam-garam logam alkali tanah  hampur semuanya terhidrat. Jumlah molekul hidrat dalam kristal garam-garam ini  bervariasi antara 2-12 (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Kelarutan iodida  serupa dengan klorida dan bromida. Perak, merkurium (I), merkurium (II), tembaga (I), dan timbel iodida adalah garam-garam yang paling sedikit larut. Larutan tembaga sulfat, endapan cokelat terdiri dari campuran tembaga (I) iodida, CuI dan Iod. Iod ini dapat dihilangkan dengan menambahkan larutan natrium tiosulfat atau asam sulfat, dan diperoleh endapan tembaga (I) iodida yang hampir putih (Svehla, 1985).
Dari sudut pandang kimia,  kemampuan logam alkali untuk bereaksi dengan air dan asam akan  membentuk senyawa ionik, yaitu logam Ca, Sr, Ba, dan Ra dan semua hampir sama reaktif. Kalsium dan strontium, dan barium diperoleh dengan mereduksi oksida dengan aluminium, kalsium, dan stontium juga diperoleh dengan elektrolisis klorida cair  metal magnesium  dalam proses dow. Proses dow dapat diuraikan dan elektrolisis dari MgCl2 (Petrucci, 1972).
Kelarutan garam-garam alkali tanah berbeda dengan garam-garam golongan alkali yamg mudah larut dalam air, berbagai  garam golongan alkali tanah tidak larut dalam air. Pada umumnya garam alkali tanah yang larut dalam air adalah         garam-garam nitrat dan klorida. Beberapa anion menunjukkan kecenderungan kelarutan yang cukup mencolok seperti misalnya garam sulfat yang mempunyai kecenderungan semakin sukar larut dari atas ke bawah dalam golongannya sedangkan hidroksidasinya (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Besi yang murni berwarna putih perak, dan  besi melebur pada 1535 0C. Jarang terdapat besi komersial  yang murni biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, silisida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta sedikit grafit            (Svehla, 1985).
Aluminium adalah logam putih yang bubuknya berwarnah abu-abu, aluminium melebur pada 695 0C. Objek-objek aluminium teroksidasi pada permukaannya tetapi lapisan oksida ini melindungi objek dari oksida lebih lanjut. Ion-ion aluminium membentuk garam -garam yang tak berwarna dengan anion-anion yang tak berwarna ( Svehla, 1985).
Kalsium dan logam, kedua logam ini berwarna keabu-abuan, bereaksi lambat dengan oksigen udara pada temperatur kamar tetapi terbakar hebat pada pemanasan. Kalsium terbakar hanya menghasilkan oksidasinya, tetapi barium dapat menghsilkan dioksidasi dalam kondisi oksigen berlebihan. Kalsium merupakan unsur terbanyak kelima di bumi, sangat banyak terdapat sebagai kalsium karbonat dalam deposit masif kapur, gamping, batu kapur, dan marmer (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Mangnesium adalah ion paling umum ketiga yang dijumpai dalam air laut setelah natrium klorida, sehingga air laut merupakan sumber paling besr untuk industri logam magnesium. Dari 1 Km3 air laut terdapat kira-kira satu juta ton magnesium  0,001 ppm. Dengan 108 km3 air laut diplanet bumi, kebutuhan logam magnesium lebih dari cukup (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Logam magnesium dapat teroksidasi oleh udara secara perlahan-lahan pada temperatur kamar, tetapi pada pemanasan reaksinya sangat sehat. Jika logam magnesium dibakar, akan timbul nyala api putih yang sangat terang. Oleh sebab itu pada awal fotografi, serbuk magnesium dibakar sebagai sumber penerangan. Reaksi pembakaran logam magnesium tersebut berlangsung sangat hebat, sehingga tidak dapat  dipadamkan dengan bahan pemadam api dari karbon dioksida, melainkan harus dipadamkan dengan bahan pemadan kebakaran khas D yang mengandung grafit atau natrium klorida. Bila grafit dengan logam dibakar akan dihasilkan karbida logam yang akan membungkus permukaan logam yang terbakar sehingga secara efektif dapat menahan reaksi pembakaran lebih lanjut (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Marmer terbentuk akibat adanya kombinasi panas dan tekanan terhadap deposito batu kapur yang terpendam jauh di dalam kerak bumi yang mengakibatkan batu kapur meleleh (Sugiarto dan Suyanti, 2010).
Studi tentang  krakteristik adsorpsi multi logam Ag( I), Pb(II), Cu(II), Ni(II), dan silika gel yang dihasilkan dari penelitian hingga selesai. Adsorpsi multi logam Ag, Pb, Cr, Cu, dan Ni  sistem batch selama satu jam pada variasi ion logam dihitung dari perbedaan konsentrasi ion logam (Purwaningsih, 2009).
Membran elektrodialisis  dapat dipergunakan untuk memisahkan ion Natrium (Na) dan ion Magnesium (Mg).  Dalam hal ini  diperoleh bahwa ion Magnesium (Mg) lebih selektif dibanding dengan ion Natrium (Na). Perpindahan ion terbaik berlangsung pada kondisi, untuk ion Natrium (Na) diperoleh pada konsentrasi feed sebesar 21.425,90 ppm, voltage kuat arus sebesar 2,8 Volt dengan waktu selama 30 menit dan Rejeksi yang diperoleh sebesar 78,43 % , sedang untuk ion Magnesium (Mg) diperoleh pada konsentrasi feed sebesar 15.795,30 ppm, voltage kuat arus sebesar 2,5 Volt dengan waktu selama 150 menit dan % Rejeksi yang diperoleh sebesar 97,02 %. (Hapsari, 2008).
Ion logam alkali-metanol (Li, Na, K) diproduksi pada temperatur dan  reaksi yang diteliti menggunakan reaktor cepat  dalam kondisi termal (Zhang, 1992).


























BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah  akuades, serbuk logam aluminium (Al), serbuk logam besi (Fe), serbuk logam zink (Zn), tembaga (Cu), serbuk iodin, logam magnesium (Mg), logam kalsium (Ca), indikator fenolftalein (PP), tissue rol, kertas label  dan korek api.

3.2 Alat Percobaan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pipet tetes, kaca arloji, batang pengaduk, tabung reaksi, penjepit tabung reaksi (gegep), gelas 50 mL  kimia, pinset, labu semprot, masker, sendok tanduk (spatula) dan lampu spritus.

3.3  Prosedur Percobaan
3.3.1 Percobaan Daya Reduksi Logam Terhadap Iodin
Empat buah kaca arloji masing-masing dimasukkan serbuk Al, Fe, Zn dan Cu sebanyak 1:2 dengan serbuk iodin. Masing-masing campuran tersebut diaduk dengan batang pengaduk dalam keadaan kering sampai campuran merata. Kemudian ditambahkan air secukupnya pada masing-masing campuran tersebut dengan menggunakan pipet tetes. Setelah itu, diamati perubahan yang terjadi.

3.3.2 Percobaan Sifat Reaksi Logam Alkali Tanah Terhadap Air
Dua buah tabung reaksi masing-masing dimasukkan serbuk Mg dan Ca. Kemudian pada tabung reaksi ditambahkan akuades dua kali volume logam dan diamati apa yang terjadi pada masing-masing tabung. Selanjutnya, kedua tabung dipanaskan secara perlahan di atas nyala lampu spiritus sambil digoyang-goyang agar panas merata, kemudian diamati lagi yang terjadi pada tabung reaksi. Selanjutnya, ditambahkan larutan indikator PP pada masing-masing tabung reaksi. Lalu diamati warna yang terbentuk.




















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan  Reduksi Oksidasi Logam  Terhadap Iodin

 NO.
Logam
Setelah dicampurkan
Setelah ditambah air
Reaksi hebat (H), sedang (S), lemah (L)
Warna uap
    1.
Aluminium
Perak
Tidak bereaksi
-
-
         2.
Besi
Abu- abu
Bereaksi
S
Ungu
3.       

   Tembaga

Cokelat

Tidak bereaksi

-

-

4.       
       Seng
    Abu- abu
Bereaksi
          H
Ungu

Tabel 2.  Kereaktifan Logam Alkali Tanah Terhadap Akuades

NO.
Logam
Timbul gelembung gas
Setelah dipanaskan timbul gas
Reaksi hebat (H), sedang (S), lemah (L)
Warna larutan
1.
Kalsium
-
Ya
H
Merah muda

Magnesium
-
Ya
S
    Ungu pekat

4.2  Reaksi
1.    Fe(s)+  2I2(s)                      FeI2(aq)   +  H2O(l)   +  I2(g)­         E0 =  + 0,98
Anoda     :  Fe(s )                     Fe2+(aq)   +    2e                    E0 =  + 0,44
Katoda:  I2(s)+ 2e                    2I-(aq )                                                     E0 =  + 0,54
     Fe(s)+  2I2(s)                      FeI2(aq)   +  H2O(l)   +  I2(g)­           E0 =  + 0,98
2.    Cu(s)+  2I2(s)                  CuI2(aq)   +  H2O(l)   +   I2(g)­           E0 =  + 0,20
Anoda     : Cu(s)                      Cu2+(aq)   +    2e                    E0 =  -0,34
Katoda    : I2+ 2e                   2I-(aq)                                                 E0 =  + 0,54    
Cu(s)+  2I2(s)                  CuI2(aq)   +  H2O(l)   +   I2(g)­           E0 =  + 0,20

3.    2Al(s)   +  4I2(S)                    2AlI3(aq)  +  H2O(l)   +   I2(g)­       E0 =  + 2,20             
Anoda     :   Al(s)                    A l3+(aq)   +   3e              x 2     E0 =  + 1,66
Katoda    :   I2(s)+ 2e                              2I-(aq)              x 3      E0 =  + 0,54
    2Al(s)   +  4I2(S)                     2AlI3(aq)  +  H2O(l)   +   I2(g)­        E0 =  + 2,20
 

4.    Zn(s)+  2I2(s)                       ZnI2(aq)   +  H2O(l)    +   I2(g)­      E0 =  + 1,30
    Anoda      :  Zn(s)                             Zn2+  +      2e-                                  E0 =  + 0,76
    Katoda     :  I2(s)+  2e                                  2I-(aq)                       E0 =  + 0,54
Zn(s)+  2I2(s)                       ZnI2(aq)   +  H2O(l)    +   I2(g)­      E0 =  + 1,30

5.    Mg(s)    +   2H2O(l)               Mg2+(aq) + 2OH-(aq)­+ H2(g) ­     E0 =  + 1,53
     Anoda      :  Mg(s)                     Mg2+ (aq)+  2e-                           E0 =  + 2,36
      Katoda     : 2H2O(l)+ 2e                    H2 + 2OH-(aq  )              E0 =  - 0,83
Mg(s)    +   2H2O(l)               Mg2+(aq) + 2OH-(aq)­+ H2(g) ­     E0 =  + 1,53

6.    Ca(s)     +   2H2O(l)                Ca2+(aq)  + 2OH-(aq)­+ H2(g) ­     E0 = + 2,04
Anoda      :  Ca(s)                  Ca2+ (aq)+  2e-                              E0 =  + 2,87
Katoda     : 2H2O(l)+ 2e                              H2 + 2OH-(aq)    E0 =  - 0,83
Ca(s)     +   2H2O(l)                Ca2+(aq)  + 2OH-(aq)­+ H2(g) ­      E0 =  + 2,04

4.3  Pembahasan
Iodin adalah salah satu oksidator. Iodin mudah mengalami reduksi dan mudah menarik elektron sehingga bertindak sebagai oksidator kuat. Iodin dapat digunakan untuk mengoksidasi logam-logam untuk melihat daya reduksi logam-logam tersebut.
Dalam percobaan ini dilakukan percobaan daya reduksi logam terhadap iodin, dengan mencampurkan serbuk logam Al, Fe, dan Zn dan Cu dengan iodin padat untuk melihat daya reduksinya. Logam dan iodin diaduk merata dengan batang pengaduk  dalam keadaan kering hingga campuran merata. Pada saat pencampuran ini, logam dan iodin belum bereaksi. Namun, setelah dicampur merata, campuran logam dan iodin ditetesi dengan air sedikit demi sedikit hingga 5 tetes dengan menggunakan pipet tetes. Setelah ditambahkan air, terjadi reaksi antara logam dengan iodin. Reaksi baru terjadi setelah penambahan air karena air yang  ditambahkan dalam campuran logam dan iodin bertindak sebagai katalis reaksi. Setelah ditambahkan air, campuran iodin dengan Zn langsung bereaksi dan  memberikan warna uap. Demikian pula campuran dengan Fe langsung bereaksi dan  memberikan warna uap. Berbeda dengan campuran iodin dengan Al. Campurannya dengan Al tidak bereaksi mungkin karena logam aluminium sudah tidak layak digunakan lagi sehingga tidak terjadi reaksi. Logam tembaga tidak mengalami reaksi     dari tidak terbentuk warna atau warna uap mungkin karena logam tembaga sudah tidak layak digunakan.
Jika dibandingkan secara teori kemampuan mereduksi yang paling kuat yaitu Al > Zn > Fe > Cu. Ini cukup berbeda dengan hasil dari percobaan yang seharusnya Zn lebih kuat daya reduksinya daripada Fe. Ini dikarenakan Zn belum dicampur dengan iodin sedangkan untuk logam Fe sudah duluan dicampur. Kemungkinan iodin sudah sedikit bereaksi dengan udara bebas sehingga ketika bercampur dengan Zn, kemampuannya untuk bereaksi semakin berkurang.
Seperti logam alkali, unsur-unsur logam alkali tanah juga merupakan unsur logam yang reaktif, sehingga unsur-unsur logam alkali di alam tidak terdapat dalam keadaan bebas, tetapi berikatan dengan unsur-unsur lain. Namun bila dibandingkan, logam alkali lebih reaktif daripada logam alkali tanah karena pada logam alkali hanya memiliki satu elektron valensi yang dengan mudah dapat mengikat atom lain untuk bereaksi dengannya. Berbeda dengan golongan alkali tanah yang memiliki elektron valensi 2 yang memerlukan energi yang lebih besar untuk melepas elektronnya dan bereaksi dengan atom lain.
Dalam percobaan ini logam magnesium dan kalsium yang merupakan logam alkali tanah direaksikan dengan air untuk melihat kereaktifannya. Dalam sebuah tabung reaksi dimasukkan dulu akuades sebanyak 5 mL, kemudian ke dalam tabung reaksi itu ditambahkan kepingan-kepingan logam magnesium dan kalsium dan diamati reaksi yang terjadi. Penambahan akuades ke dalam tabung reaksi sebelum dimasukkan kepingan-kepingan logam magnesium dan kalsium dimaksudkan agar logam magnesium dan kalsium dapat bereaksi seluruhnya dengan air, tidak ada yang tertinggal di dinding-dinding tabung reaksi. Setelah ditambahkan air, logam magnesium dan kalsium tidak bereaksi dengan air, namun setelah dipanaskan, baru terjadi reaksi antara logam magnesium dan kalsium dengan air, yang ditandai timbulnya gelembung-gelembung gas pada tabung reaksi. Gelembung-gelembung gas yang terbentuk dalam tabung reaksi ini adalah gas hidrogen yang dihasilkan dari reaksi magnesium dan kalsium dengan air. Reaksi magnesium dan kalsium dengan air yang tidak terjadi pada suhu kamar ini membuktikan teori bahwa logam alkali tanah kurang reaktif dibandingkan dengan logam alkali.
Tabung reaksi yang berisi akuades dan magnesium dan kalsium  ditambahkan  larutan indikator fenolftalein (PP). Fungsi penambahan indikator untuk menguji apakah reaksi antara logam Mg dan kalsium dengan akuades menghasilkan larutan yang bersifat basa atau tidak. Setelah penambahan indikator ini, larutan dalam tabung reaksi berwarna merah muda (pink). Ini membuktikan bahwa reaksi magnesium dan kalsium dengan akuades menghasilkan larutan yang bersifat basa, yaitu larutan magnesium hidroksida (Mg(OH)2) dan kalsium hidroksida (Ca(OH)2)

















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa  daya reduksi logam Zn, Fe, Al dan Cu terhadap iodin adalah Zn > Fe > Al > Cu. Hasil yang diperoleh dari percobaan tidak sesuai dengan teori.  Sedangkan urutan kereaktifan logam alkali tanah terhadap air yaitu  Mg > Ca. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori. 

5.2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Laboratorium
Untuk laboratorium, sebaiknya diperiksa logamnya terlebih dahulu sebelum digunakan karena ada beberapa logam yang tidak bereaksi, dimana logam tersebut sebenarnya dapat bereaksi dengan hebat.

5.2.2 Saran Untuk Percobaan
            Sebaiknya dilakukan percobaan dengan menggunakan logam-logam lain agar dapat membandingkan percobaan dengan baik.









DAFTAR PUSTAKA
Hapsari, N., 2008, Proses Pemisahan Ion Natrium (Na) dan Magnesium (Mg) Dalam Bittern (Buangan) Industri Garam dengan Membran Elektrodialisis, Teknik Kimia, 3 (1):192-198 .
                   
Petrucci, R.H., dan Harwood, W.S., 1972, General Chemistry, Macmillan Publishing Company, New York.

Purwaningsih, D.j., 2009, Adsorpsi Multi Logam Ag(I), Pb(II), Cr(III), Cu(II) dan Ni(II) Pada Hibrida Etilendiamino-Silika Dari Abu Sekam Padi, Jurnal Penelitian Saintek, 14 (1): 59-76).

Sugiyarto, K.H., dan Suyanti, R.D., 2010, Kimia Anorganik Logam, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Svehla, G., 1985, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta.

Zhang, X., dan Castleman, W.A., 1992, Influenced Of Solvation on Dehydration Reaction of Alkali Metal-Methanol Cluster Ion, J.Am.Chem,                         114: 8607-8610.













LEMBAR PENGESAHAN



















                                                                         Makassar, 27 Maret 2014
                                                                                               
        Asisten                                                                                         Praktikan




 (Sarwina Hafid)                                                            (Yunita Pare Rombe)

BAGAN KERJA
A.  Daya Reduksi Logam Terhadap  Iodin
logam Al
Hasil
logam Zn
logam Fe
logam Cu
 


-          Dimasukkan ke dalam kaca arloji  yang bersih dan kering  sebanyak 2:1 terhadap iodin
-          Diaduk dengan batang pengaduk dalam keadaan kering sampai campuran merata
-          Ditambahkan  beberapa tetes air dengan menggunakan pipet tetes
-          Diamati reaksi yang terjadi






B.     Sifat reaksi logam alkali tanah dengan air
Logam Mg
Hasil
Logam Ca
 


-          Dimasukkan ke dalam sebuah tabung reaksi
-          Ditambahkan  akuades dua kali dari  volume logam
-          Diamati yang terjadi pada tabung reaksi
-          Tabung reaksi dipanaskan di atas nyala api bunsen sambil digoyang-goyang agar panas merata
-          Diamati perubahan dalam tabung reaksi
-          Ditambahkan larutan indikator PP
-          Diamati warna larutan yang terbentuk












Lampiran
Gambar 1. Logam aluminium + iodin padat bercampur
Gambar 2. Reaksi antara campuran logam aluminium + iodin padat dengan air
Gambar 3.Pemanasan logam magnesium dan kalsium dengan air
 




































Gambar 4. Hasil pemanasan logam magnesium dan kalsium dengan air
Gambar 6. Logam natrium dalam air ketika bereaksi
Gambar 7. Penambahan indikator fenolftalein pada hasil reaksi logam natrium dan air
Gambar 5. Logam natrium dalam air sebelum bereaksi
 






















Gambar 8. Reaksi logam natrium dalam air setelah penambahan indikator fenolftalein
                      

No hay comentarios.:

Publicar un comentario

PENENTUAN KESEGARAN SUSU

BAB I PENDAHULUAN 1. 1   Latar Belakang Dasar ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu karena air susu adala...