miércoles, 24 de septiembre de 2014

KUAT MEDAN ANTARA LIGAN AMIN–AIR



LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ANORGANIK
PERCOBAAN II
KUAT MEDAN ANTARA LIGAN AMIN–AIR




NAMA                                     :  YUNITA PARE ROMBE
NIM                                         :  H311 12 012
KELOMPOK / REGU          :  III(TIGA) / III(TIGA)
HARI / TANGGAL PERC.  :  SELASA / 11 MARET 2014
ASISTEN                                :  MUH. HASRIANDY

















LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Terdapat berbagai macam unsur di bumi dengan bentuk dan jenis yang berbeda-beda pula. Dari sekian banyak unsur yang ada dan kita ketahui, kebanyakan unsur-unsur tersebut adalah berjenis logam. Salah satunya yaitu logam-logam yang berada pada golongan transisi.
Dalam pelaksanaan analisis anorganik kualitatif banyak digunakan         reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentukan kompleks. Suatu ion logam terdiri atas satu atom pusat dan dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom pusat            (Svehla, 1985).
Logam transisi biasanya mempunyai orbital d yang tidak terisi penuh sehingga memiliki kecenderungan yang besar untuk membentuk senyawa yang dinamakan dengan senyawa kompleks. Senyawa kompleks pada umumnya terdiri dari logam-logam yang bertugas sebagai atom pusatnya. Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang pembentukan senyawa kompleks di antaranya yaitu teori ikatan valensi, teori medan kristal, dan teori orbital molekul.
Dalam senyawa kompleks, ada yang dinamakan ligan dan ada juga yang namanya ion atau atom pusat. Pada senyawa kompleks, elektron dipakai bersama antara kedua atom yang berikatan. Dalam hal ini, ligan berfungsi sebagai donor proton dan intinya sebagai akseptor. Ligan pada senyawa kompleks memilki peranan yang sangat penting yaitu ketika suatu ligan yang berikatan semakin kuat maka kompleks yang terbentuk akan semakin stabil.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari kekuatan medan ligan antara amin dan air berdasarkan panjang gelombang maksimum. 

1.2.2 Tujuan Percobaan
         Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
1.      Menentukan panjang gelombang maksimum dari larutan ion logam Cu2+     0,02 M dalam pelarut air, campuran 1:1 antara air dan NH4OH 1 M, dan campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1 M dengan menggunakan spektrofotometer.
2.      Membandingkan kuat medan antara ligan amin dengan air dari ketiga larutan yang telah dibuat dengan melihat panjang gelombang maksimumnya.

1.3 Prinsip Percobaan
            Penentuan panjang gelombang maksimum dari larutan ion logam Cu2+      0,02 M dalam pelarut air, campuran 1:1 antara air dan NH4OH 1 M, dan campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1 M dilakukan dengan mengukur absorbansi larutan menggunakan spektronik 20 D+ pada rentang panjang gelombang  460-520 nm dengan interval 20 nm. Panjang gelombang maksimum ketiga larutan digunakan untuk membandingkan kuat medan ligan amin dan air.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ligan adalah spesies yang mampu menyumbangkan pasangan elektron pada atom logam pusat atau ion dan merupakan dasar Lewis dalam menerima pasangan elektron, atom logam pusat atau tindakan ion sebagai asam Lewis. Ligan yang hanya memiliki satu pasang elektron yang dapat menyumbangkan disebut ligan unidentate (Petrucci dan Harwood 1989).
Teori Lewis dapat memberikan penjelasan yang luas tentang struktur-struktur kimia dengan ungkapan-ungkapan yang sederhana, untuk dapat dimengerti dengan lebih mendalam sifat-sifat dari teori ligan, yang menjelkaskan tentang pembentukan kompleks atas dasar medan elektrostatik yang diciptakan oleh ligan-ligan yang terkoordinasi sekeliling bulatan sebelah dalam ari atom pusat. Medan ligan menyebabkan penguraian tinkatan energi orbital d atom pusat, lalu menghasilkan energi untuk menstabilkan kompleks itu, jika molekul netral yang terlibat sebagai ligan dalam pembentukan kompleks, muatan pada ion kompleks tetap sama seperti muatan pada atom pusatnya. Kompleks dengan ligan-ligan campuran bisa mempunyai muatan yang berbeda-beda (Svehla, 1985).
Beberapa contoh ligan unidentate adalah anion monoatomik seperti ion halida, anion poliatomik seperti ion nitrit, molekul sederhana seperti amonia dan molekul yang lebih kompleks seperti metal, dan CH3NH2. Beberapa ligan mampu menyumbangkan lebih dari satu pasangan elektron tunggal dari atom yang berbeda, dalam ligan dan situs yang berbeda dalam struktur geometris kompleks. Ini disebut ligan multidentat. Molekul etilendiamin dapat menyumbangkan dua pasangan elektron, satu dari setiap atom N dan dapat menyumbangkan dua pasang elektron, disebut ligan bidentat. Ketika ikatan ligan multidentat ke ion logam menghasilkan cincin, dapat lihat kompleks sebagai kelat. Ligan multidentat disebut agen kelat, dan proses pembentukan kelat disebut khelating (Petrucci dan Harwood 1989).
Keistimewaan yang khas dari atom-atom logam transisi group d adalah kemampuannya untuk membentuk kompleks dengan berbagai molekul netral, seperti karbon monoksida, isosoianida, fosfin tersubsitusi, arsin dan stibin, nitrat oksida, dan berbagai molekul dengan orbital π yang terdelokalisai seperti piridin, 2,2-bipiridin, dan 1,10-fenantrolin. Terdapat jenis-jenis kompleks yang beragam, beranah dari molekul senyawaan biner seperti Cr(CO)6 atau Ni(PF3)4 sampai ion kompleks seperti [Fe(CN)5CO]3- (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Suatu ion kompleks terdiri dari satu atom pusat dan sejumlah ligan yang terkikat erat dengan atom pusat. Jumlah relatif komponen-komponen ini dalam kompleks yang stabil nampak mengikuti stoikiometri yang sangat tertentu, meskipun tak dapat ditafsirkan didalam lingkup kompleks yang klasik. Atom pusat ditandai oleh bilangan koordinasi, suatu angka bulat, yang menunjukkan jumlah ligan yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat. Pada kebanyakan kasus, bilangan koordinasi adalah 6 seperti Fe2+,Zn2+, Cr3+, Co3+, Ni2+, Cd2+. Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang tersedia sekitar atom atau ion pusat yang disebut sebagai bulatan koordinasi, yang masing-masing dapat ditempati oleh suatu ligan (Svehla, 1985).
Dalam banyak kompleks ini, atom logam berada dalam keadaan oksidasi formal yang positif rendah, nol atau bahkan negatif. Ini adalah kekhasan ligan-ligan yang menstabilkan keadaan oksidasi yang rendah. Sifat ini dihubungkan dengan fakta bahwa ligan-ligan mempunyai orbital-orbital π yang kosong sebagai tambahan dari pasangan menyendiri. Orbital-orbital yang kosong ini dapat menerima rapatan elektron dari orbital logam yang timbul dari sumbangan pasangan menyendiri. Rapatan elektron yang tinggi pada atom logam dapat didelokalisasikan pada ligan. Kemampuan ligan untuk menerima rapatan elektron kedalam orbital π kosong yang letaknya lebih rendah, disebut keasaman π (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Kation divalen Mg2+ dan Ca2+ mengatur interaksi integrin dengan ligan Mg2+ dan memfasilitasi Ca2+ yang  umumnya menghambat interaksi seperti pada vitro. karena kedua kation yang hadir dalam konsentrasi dalam vitro, relevansi fisiologis dalam vitro  tidak jelas, sehingga dengan  mengukur afinitas kedua kation ke  aktif dan aktif dari ligan dan kation mengikat A-domain (CD11bA) dari integrin CD11b/CD18 dalam ketiadaan dan kehadiran single rantai 107 antibodi (scFv107) sebagai aktivasi sensitif ligan antibodi mimesis (Ajroud dkk., 2004).
Teori medan ligan menunjuk keseluruhan yang berpusat pada sejumlah teori yang dipergunakan untuk memahami ikatan dan hubungan elektronik (magnetis, spektroskopik, dsb.) dari senyawa kompleks dan campuran lain yang dibentuk oleh unsur transisi (Cotton dkk., 1995).
Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar tentang ikatan dalam senyawa logam transisi dibandingkan dengan senyawa dari unsur-unsur golongan utama. Semua bentuk umum dari teori ikatan valensi berlaku bagi unsur-unsur golongan utama, dapat juga berhasil diaplikasikan bagi unsur-unsur transisi. Pada umumnya, metode MO berlaku bagi senyawa logam transisi  memberikan hasil yang benar dan berguna, sehingga tingkat perkiraan dinaikkan, sama halnya di semua kasus lain (Cotton dkk., 1995).
Kompleks donor dari ligan golongan V dan golongan VI dari senyawaan trivalensi fosfor, arsen, antimon, dan bismut dapat memberikan kompleks dengan logam-logam transisi. Donor-donor ini adalah basa lewis seperti senyawaan BR3 di mana orbital d tidak terlihat. Meskipun demikian atom donor memungkinkan orbital d  yang  kosong dan penerimaan balik kedalam orbital. Berdasarkan data inframerah, suatu derer ligan yang luas, dan melibatkan atom-atom donor golongan V dan golongan VI, dapat dirancang dalam urutan dengan menurunnya keasaman π. Ligan golongan V dan VI yang lain semuanya dapat menggantikan beberapa gugus CO, membentuk senyawaan seperti (R3P3)Mo(CO)3 atau bahkan (R3P3)Mo(CO)2, namun sangat jarang dapat menggantikan semua gugus CO, karena keasamannya π-nya yang rendah. Meskipun demikian, terdapat beberapa molekul stabil seperti Ni(PCl3)4 dan Cr(difos)3 (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Teori medan kristal menyediakan satu cara penentuan, dengan bahan pertimbangan elektrostatik sederhana, bagaimana energi dari orbital ion logam akan terpengaruh dari atom sekitar atau ligan. Itu bekerja dengan baik ketika simetrinya tinggi tapi dengan upaya tambahan, dapat diterapkan lebih umum lagi. Teori medan kristal adalah suatu model dan tak satu pun uraian yang realistis tentang kekuatan sebenarnya dalam bereaksi (Cotton dkk., 1995).
Sebuah spektrofotometer dapat dianggap sebagai sebuah fotometer fotolistrik yang diperhalus yang memungkinkan penggunaan pita-pita cahaya yang sinambung variabelnya dan lebih mendekati monokromatik, atau lebih tepat, pita-pita sempit energi  cahaya dari sumbernya (Basset dkk., 1994).

























BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan ion logam Cu2+    0,1 M, larutan NH4OH 1 M, akuades, kertas label, sabun cair, dan tissue roll.

3.2 Alat Percobaan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas kimia 250 mL, spektronik 20 D+, labu ukur 50 mL, pipet tetes, pipet skala 10 mL, sikat tabung, pipet volume 10 mL,  pipet volume 20 mL, pipet volume 25 mL, bulb, dan labu semprot, dan kuvet.

3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1  Pembuatan Larutan  ion Logam Cu2+  0,02 M dalam Air
            Labu ukur 50 mL disediakan. Sebelum dipakai, dicuci terlebih dahulu dan dibilas dengan akuades. Selanjutnya bulb dipasang pada pipet skala 10 mL. Dibilas terlebih dahulu pipet skala dengan larutan ion logam Cu2+ sebelum dipakai. Setelah itu, larutan ion logam Cu2+ 0,1 M dipipet sebanyak 10 mL ke dalam labu ukur         50 mL. Diencerkan sampai tanda garis dan dikocok sampai larutan homogen. Diamati absorbansi (A) dengan menggunakan spektronik 20 D+ pada rentang gelombang 460-500 nm dengan interval 20 nm. Digunakan air sebagai blanko. Diamati dan dicatat panjang gelombangnya.



3.3.2 Pembuatan Larutan Ion Logam Cu2+ 0,02 M dalam campuran 1 : 1 air dan NH4OH 1 M

Labu ukur 50 mL disediakan. Sebelum dipakai, dicuci terlebih dahulu dan dibilas dengan akuades. Selanjutnya bulb dipasang pada pipet skala 10 mL. Dibilas terlebih dahulu pipet skala dengan larutan ion logam Cu2+ 0,1 M sebelum dipakai. Setelah itu, larutan ion logam  Cu2+ 0,1 M dipindahkan sebanyak 10 mL ke dalam labu ukur 50 mL. Lalu, ditambahkan 25 mL larutan  NH4OH 1 M. Diencerkan dengan akuades sampai tanda batas dan dikocok sampai larutan homogen. Diamati absorbansi (A) dengan menggunakan spektronik 20 D+ pada rentang gelombang 460-640  nm dengan interval 20 nm. Digunakan air sebagai blanko.

3.3.3 Larutan Ion Logam Cu2+ 0,02 M dalam campuran 3 : 1 air dan NH4OH    1 M

Labu ukur 50 mL disediakan. Sebelum dipakai, dicuci terlebih dahulu dan dibilas dengan akuades. Selanjutnya bulb dipasang pada pipet skala 10 mL. Dibilas terlebih dahulu pipet skala dengan larutan ion logam Cu2+ 0,1 M sebelum dipakai. Setelah itu, Larutan ion logam Cu2+ 0,1 M dipindahkan sebanyak 10 mL kedalam labu ukur 50 mL. Ditambahkan 12,5 mL larutan NH4OH 1 M ke dalam labu ukur tersebut. Diencerkan dengan akuades sampai tanda batas dan dikocok sampai larutan homogen. Diamati absorbansi (A) dengan menggunakan spektronik 20 D+ pada rentang gelombang 560-640 nm dengan interval 20 nm. Digunakan air sebagai blanko.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kompleks logam transisi memiliki warna yang khas. Hal ini berarti ada absorpsi di daerah sinar tampak dari elektron yang dieksitasi oleh cahaya tampak dari tingkat energi orbital molekul kompleks yang diisi elektron ke tingkat energi yang kosong. Bila perbedaan energi antarorbital yang dapat mengalami transisi disebut ∆Ε, frekuensi absorpsi ν diberikan oleh persamaan ∆Ε = h ν. Transisi elektronik yang dihasilkan oleh pemompaan optis (cahaya) diklasifikasikan secara kasar menjadi dua golongan. Bila kedua orbital molekul yang memungkinkan transisi memiliki karakter utama d, transisinya disebut transisi d-d atau transisi medan ligan, dan panjang gelombang absorpsinya bergantung sekali pada pembelahan medan ligan. Bila satu dari dua orbital memiliki karakter utama logam dan orbital yang lain memiliki karakter ligan.
Ion kompleks memiliki ion logam pada pusatnya dengan jumlah tertentu pada setiap molekul atau ion-ion yang mengelilinginya. Ion-ion yang mengelilinginya itu dapat berhimpit dengan ion pusat melalui ikatan koordinasi (dative covalent). Molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilingi suatu logam pusat disebut dengan ligan-ligan. Yang termasuk pada ligan sederhana adalah air, amonia dan ion klorida dimana semua ligan-ligan tersebut memiliki pasangan elektron tak berikatan yang aktif pada tingkat energi paling luar. Pasangan elektron tak berikatan inilah yang akan digunakan untuk membentuk ikatan koordinasi dengan ion logam.
Ketika sinar putih melewati larutan yang berisi salah satu dari ion tersebut, atau dengan kata lain sinar putih tersebut direfleksikan oleh larutan itu, beberapa warna dari sinar dapat diabsorpsi atau diserap oleh larutan tersebut. Warna yang dapat dilihat oleh mata adalah warna yang tertinggal (tidak diabsorpsi). Pelekatan ligan pada ion logam merupakan efek dari energi orbital-orbital d. Sinar yang diserap merupakan akibat dari perpindahan elektron diantara orbital d yang satu dengan yang lain.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kuat medan antara ligan amin-air dalam senyawa kompleks dengan atom pusat Cu2+ terhadap panjang. Ligan yang digunakan adalah NH4OH dan akuades. Kuat medan antara ligan amin-air ditentukan oleh perbandingan nilai absorbansi pada panjang gelombang dengan rentang 390-620 nm.
            Pada percobaan kuat medan ligan antara amin dan air, hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan Cu2+ 0,02 M  dalam labu ukur 50 mL dari larutan Cu2+ 0,1 M. Jadi, perlu dilakukan pengenceran dengan mengukur larutan Cu2+ 0,1 M sebanyak 10 mL dengan menggunakan pipet skala 10 mL lalu ditambahkan akuades hingga  mencapai tanda batas lalu dihomogenkan. Larutan akan berwarna biru pucat. Ini dilakukan untuk melihat senyawa akuokompleks. Ketika ion Cu2+ berikatan dengan ligan H2O, maka akan membentuk senyawa akuokompleks [Cu(H2O)4]2+. Berikut reaksinya :
            CuSO4                Cu2+ + SO42-
            NH4OH NH3 + H2O
            Cu2+ + SO42- + 4H2O               [Cu(H2O)4]SO4
            Kemudian dapat diukur absorbannya dengan menggunakan alat Spektronik 20 D+ untuk menentukan panjang gelombang maksimumnya pada rentang panjang gelombang 540-620 nm. Berikut tabel dan grafik hasil pengukuran panjang gelombang terhadap absorbansi.
Tabel 1.  Hasil Pengukuran Panjang Gelombang terhadap Absorbansi
No.
Panjang gelombang (nm)
Absorbansi
1
540
0,002
2
550
0,040
3
560
0,083
4
570
0,117
5
580
0,137
6
590
0,139
7
600
0,125
8
610
0,089
9
620
0,039







            Selanjutnya adalah membuat larutan Cu2+ 0,02 M dalam campuran air dan NH4OH 1 M 1:1 di dalam labu ukur 50 mL, dipipet larutan Cu2+ 0,1 M 10 mL kemudian ditambahkan dengan 25 mL NH4OH 1 M kemudian ditambahkan lagi akuades hingga tanda batas. Pada saat penambahan NH4OH, terjadi perubahan warna dari biru pucat menjadi biru tua gelap. Ini menandakan terbentuknya kompleks amina. Berikut reaksinya :
            Cu2+ + SO42- + 4H2O               [Cu(H2O)4]SO42-        
            NH4OH NH3 + H2O
            [Cu(H2O)4]2+SO42- + NH3                      [Cu(NH3)(H2O)3 ]2+SO42-
                Kemudian diukur absorbansinya pada rentang panjang gelombang 390-460 nm. Berikut tabel dan grafik hasil pengukuran panjang gelombang terhadap absorbansi.
Tabel 2. Hasil Pengukuran Panjang Gelombang terhadap Absorbansi
No.
Panjang gelombang (nm)
Absorbansi
1
390
0,041
2
400
0,095
3
410
0,196
4
420
0,246
5
430
0,257
6
440
0,234
7
450
0,187
8
460
0,128








Setelah itu, dibuat larutan Cu2+ 0,02 M dalam campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1 M di dalam labu ukur 50 mL, dilakukan dengan dipindahkan larutan Cu2+ 0,1 M sebanyak 10 mL dengan pipet volume 10 mL kemudian ditambahkan dengan 12,5 mL NH4OH 1 M dan ditambahkan lagi akuades hingga tanda batas. Sama halnya di atas juga terbentuk warna biru tua gelap tetapi intensitasnya lebih kecil dibandingkan untuk campuran 1:1 di atas. Hal ini sangat jelas karena jumlah penambahan NH4OH di atas jauh lebih banyak dibandingkan pada campuran dengan perbandingan 3:1 ini. Berikut reaksinya :
            Cu2+ + SO42- + 4H2O               [Cu(H2O)4]2+SO42-
            [Cu(H2O)4]2+SO42- + NH3                   [Cu(NH3)(H2O)3 ]2+SO42-
            [Cu(NH3)(H2O)3 ]2+SO42- + NH3               [Cu(NH3)2(H2O)2 ]2+SO42- + H2O
            [Cu(NH3)2(H2O)2 ]2+SO42- + NH3            [Cu(NH3)3(H2O) ]2+SO42- + H2O
            [Cu(NH3)2(H2O)2 ]2+SO42- + NH3           [Cu(NH3)4]2+SO42- + H2O
            Reaksi di atas lebih sedikit mengikat NH3. Reaksi ini dengan jelas memperlihatkan kita bahwa dengan berkurangnya jumlah NH3 yang diikat oleh suatu ion pusat seperti Cu2+, maka intensitas warna kompleks yang dihasilkannya pun semakin menurun. Ini berarti bahwa senyawa NH3 merupakan ligan yang memilki medan lebih kuat daripada air.
            Kemudian diukur absorbansinya pada rentang panjang gelombang 390-470 nm. Berikut tabel dan grafik hasil pengukuran panjang gelombang terhadap absorbansi.
Tabel 3. Hasil Pengukuran Panjang Gelombang terhadap Absorbansi
No
Panjang gelombang (nm)
Absorbansi
1
390
0,079
2
400
0,095
3
410
0,203
4
420
0,258
5
430
0,277
6
440
0,259
7
450
0,221
8
460
0,163
9
470
0,104












Pembacaan absorban pada spektrofotometer dilakukan dengan interval 10 nm untuk mempercepat proses analisa. Panjang gelombang maksimum untuk larutan pertama dalam tabel 1 adalah 590 nm. Ini sesuai dengan batas panjang gelombang pengukuran pada prosedur percobaan yaitu 510-700 nm. Untuk larutan kedua panjang gelombang maksimumnya adalah 430 nm sedangkan untuk larutan ketiga panjang gelombang maksimumnya sama yaitu pada 430 nm.
Panjang gelombang maksimum pada larutan kedua dan ketiga yaitu pada tabel 2 dan 3 tercapai pada panjang gelombang 430 nm dengan nilai absorbansi larutan kedua sama dengan 0,257 dan larutan ketiga sama dengan 0,277. Sedangkan untuk larutan 1 yang tidak memiliki ligan amin, panjang gelombang maksimumnya tercapai pada 590 nm dengan nilai absorbansi sebesar 0,139. Terlihat bahwa nilai absorbansi semakin meningkat dengan bertambahnya konsentrasi ligan NH3 dalam larutan. Ini berarti, dengan bertambahnya ligan NH3 pada larutan, warna kompleks yang ditimbulkan semakin pekat. Ini berarti, amin adalah suatu ligan bermedan kuat yang memiliki kuat medan lebih besar daripada air. Panjang gelombang maksimum ion kompleks yang mengandung ligan amin dan air (larutan 2 dan 3) lebih pendek daripada panjang gelombang maksimum ion kompleks yang hanya mengandung ligan air (larutan 1). Artinya, larutan 2 dan 3 memiliki frekuensi yang lebih besar daripada larutan 1. Akibatnya frekuensi larutan 2 dan 3 lebih besar daripada larutan 1, berarti tingkat energinya pun lebih besar sesuai dengan persamaan ΔE = hv di mana ΔE = tingkat energi, h = tetapan Planck, dan v = frekuensi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ligan amin bermedan lebih kuat daripada air. Terbukti dengan keberadaan ligan-ligan tersebut yang meningkatkan tingkat energi.

















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa panjang gelombang maksimum larutan Cu2+ 0,02 M adalah 590 nm, larutan Cu2+ 0,02 M dalam campuran 1:1 antara air dan NH4OH 1 M adalah 430 nm, serta larutan Cu2+ 0,02 M dalam campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1 M adalah 430 nm.
Dengan melihat panjang gelombang maksimum yang dihasilkan, maka dapat disimpulkan bahwa ligan amin memiliki kuat medan yang lebih besar daripada ligan air.

5.2 Saran
5.2.1 Laboratorium
            Peralatannya dilengkapi demi kelancaran praktikum terutama penyediaan larutan, serta penambahan alat spektronik 20D+ atau spektrofotometer yang lebih bagus agar tiap kelompok dapat bekerja dan memperoleh data secara terpisah, tidak saling tunggu menunggu untuk memakai alat tersebut.

5.2.2 Percobaan
            Sebaiknya pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali untuk memperkecil kemungkinan kesalahan pengambilan data.



DAFTAR PUSTAKA
Ajroud, K., Sugimori, T., Goldmann, H.W., Fathallah, M.D., 2004, Binding Affinity of Metal Ions to the CD11b A-domain Is Regulated by Integrin Activation and Ligands, The Journal Of Biological Chemistry,(Online), 279(24):    25484-25488, (http//:journal-chemistryligan.com, Diakses Pada Tanggal 12 Maret 2014 Pukul 17.45 WITA).

Basset, J., Denny, C.R., Jefrey, H.G., dan Menham, J., 1994, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Edisi Keempat, Diterjemahkan oleh Seriono dan Pudjaatmaka, Penerbit Buku Kedokteran, London.

Cotton, F.A., Wilkinson, G., dan Gaus, P.L., 1995, Basic Inorganic Chemistry, Penerbit John Wiley dan Sons Inc, California.

Cotton, F.A., dan Wilkinson, G., 1989, Kimia Anorganik Dasar, diterjemahkan oleh         Sahati Soharto, UI-press, Jakarta.

Petrucci, R.H., dan Harwood, W.S., 1989, General Chemistry, Sixth Edition,       New York

Svehla, G., 1985, Analisis Anorganik Kualitatif,makro dan semimikro, diterjemahkan oleh Setiono L., dan Pudjaatmaka A., Kalma Media Pustaka, Jakarta













LEMBAR PENGESAHAN

















                                                                                             Makassar, 11 Maret 2014

         Asisten                                                                                       Praktikan


(MUH. HASRIANDI)                                                     (YUNITA PARE ROMBE)






Lampitan  I                              BAGAN KARJA

Larutan  ion logam Cu2+ 0,1 M 0,1 M
-   Dipipet 10 mL ke labu ukur 50 mL
-   Diencerkan dengan akuades sampai tanda batas
-   Dihomogenkan
-   Dipipet 10 mL ke labu ukur 50 mL
-   Ditambahkan 25 mL NH4OH 1 M
-   Diencerkan dengan akuades hingga tanda batas
-    Dihomogenkan
-   Dipipet 10 mL ke labu ukur 50 mL
-   Ditambahkan 12,5 mL NH4OH 1 M
-   Diencerkan dengan akuades hingga tanda batas
-   Dihomogenkan
Larutan ion logam Cu2+ 0,02 M dalam campuran 1:1 antara air dan NH4OH 1 M
Larutan ion logam Cu2+ 0,02 M
Larutan ion logam Cu2+ 0,02 M dalam campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1 M

 












-          Diukur absorbannya dengan spektrofotometer sinar tampak, untuk larutan ion logam Cu2+ 0,02 M dengan panjang gelombang maksimum 460-500 nm dengan interval 20 nm, untuk larutan ion logam Cu2+ 0,02 M dalam campuran 1:1 antara air dan NH4OH      1 M dengan panjang gelombang 460-640 nm dengan interval 20 nm, untuk  larutan ion logam Cu2+ 0,02 M dalam campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1 M dengan panjang gelombang 560-640 nm dengan interval 20 nm. Digunakan air sebagai blanko.
-         
Hasil
Perbedaan kekuatan ligan air dan amin, dapat dilihat melalui perbandingan panjang gelombang maksimum ketiga larutan di atas.




Lampiran
A.  Larutan Cu2+ 0,02 M dalam air
     V1  x  M1.        =  V2  x  M2
V1  x 0,1 M      =  50 ml  x  0,02 M
0,1 V1              =  1
V1 (Cu)            =  10 ml
B. Larutan Cu2+ 0,02 M dalam campuran 1:1 antara air dan NH4OH 1M
Air                   =  x 50 ml     =  25 ml
NH4OH           =  x 50 ml     =  25 ml
C. Larutan Cu2+ 0,02 M dalam campuran 3:1 antara air dan NH4OH 1M
Air                   =    x 50 ml     =  37,5 ml
NH4OH           =  x 50 ml     =  12,5 ml








Gambar Hasil Percobaan






























No hay comentarios.:

Publicar un comentario

PENENTUAN KESEGARAN SUSU

BAB I PENDAHULUAN 1. 1   Latar Belakang Dasar ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu karena air susu adala...