LAPORAN
PRAKTIKUM
KIMIA ANORGANIK
PERCOBAAN VI
PEMBUATAN GAS AMONIAK (NH3)
NAMA : YUNITA PARE
ROMBE (H31112012)
NURHARDIANTI (H31112265)
HANUNG ROHANI (H31112001)
KELOMPOK/ REGU : III(TIGA)/III(TIGA)
HARI/TANGGAL PERC. : SELASA/22 APRIL 2014
ASISTEN :
SARWINA HAFID
![]() |
LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang A
Amoniak adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa
ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia).
Walaupun amoniak memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi,
amoniak sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan. Amoniak
bersifat gas yang tidak mudah terbakar dan
digolongkan sebagai bahan beracun jika terhirup.
Gas amoniak dapat disintesis
dengan beberapa cara. Salah satunya yaitu dengan metode sintesis dari bahan
baku NH4Cl dengan Ba(OH)2. Cairan amonia mempunyai panas penguapan
yang besar (1,37 kJ g -1 pada titik didinya) dan dapat ditangani dengan
peralatan laboratorium yang biasa. Cairan NH3 mirip air dalam
perilaku fisiknya bergabung dengan sangat kuat melalui ikatan hidrogen. Tetapan
dielektriknya (-22 pada -34˚C; kira-kira 81 untuk H2O pada suhu 25 ˚C) cukup tinggi untuk
membuatnya sebagai pelarut pengion yang baik. Pengionan dirinya.
Karena NH3
mempunyai tetapan dielektrik yang jauh lebih rendah daripada air, NH3 adalah pelarut yang baik bagi senyawaan
organik namum
umunya adalah pelarut yang lebih buruk bagi senyawa organik ionik. Cairan NH3
mempunyai kereaktifan lebih rendah daripada H2O terhadap logam
elektropositif.
Amoniak
memiliki bau yang sangat pekat, apabila terhirup bias menyebabkan gangguan
pernapasan, amoniak di alam
dapat dibuat dalam skala industri
dan laboratorium. Berdasarkan dari hal-hal diatas, maka dianggap perlu untuk
melakukan percobaan cara pembuatan gas amoniak
(NH3).
1.2.
Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara pembuatan gas amoniak
(NH3).
1.2.2
Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukan percobaan ini adalah :
1.
Mensisntesis gas amoniak dari NH4Cl padat dengan
Ba(OH)2 pada
2.
Mengidentifikasi
gas amoniak yang dihasilkan dengan
indikator fenolftalein (PP).
1.3.
Prinsip Percobaan
Prinsip
dilakukannya percobaan ini adalah Membuat dan mengidentifikasi gas
amoniak (NH3) dengan mereaksikan padatan NH4Cl yang ditambahkan dengan
padatan Ba(OH)2. Gas NH3 diidentifikasi dengan indikator PP. jika warna air berubah menjadi
warna merah muda, berarti gas NH3 telah dihasilkan.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Hukum gas yang pertama, didapatkan
oleh Robert Boyle tahun 1661. Pada temperatur tetap, volume dari sejumlah tertentu
gas berbanding terbalik dengan
tekannanya. Untuk jumlah gas
tertentu pada temperatur yang tetap maka
tekanan dan volume tetap. Gas yang umum terdapat dialam atau gas sejati seperti
N2, CO2 agak menyimpang dari sifat-sifat ideal, namun
mendekati sifat ideal pada tekanan sangat rendah atau temperatur tinggi, karena
volume gas sangat dipengaruhi oleh temperatur dan takanan, maka untuk
membandingkan volume dari gas-gas, temperatur dan takanan harus sama. Tekanan
standar gas diambil 1 atm atau
76 cmHg sedang temperatur standar
diambil 0 ᵒC atau 273 ᵒK
(Sukardjo, 1985).
Menurut hukum Dalton, bila beberapa
gas yang tidak dapat bereaksi dicampur maka tekanan total gas sama dengan
jumlah tekanan parsialnya. Tekanan parsial adalah tekanan gas, bila gas tersebut sendirian ada dalam ruangan
(Sukardjo, 1985).
Salah
satu sifat-sifat gas adalah teori
kinatik gas, gas yang terdiri dari partike-partikel diskrot yang disebut molekul yang selalu bergerak cepat, gerakannya
melalui jalan yang lurus. Pada tumbuhan dengan molekul-molekul lain atau dengan
dinding bejana, kecepatannya tidak berubah, kecuali bila tekanan sangat besar,
jarak antara molekul-molekul sangat jauh dari volume masing-masing molekul sangat kecil bila
dibandingkan dengan volume dari sistem dan molekul-molekul tidak mempunyai daya
tarik satu terhadap yang lain (Sukardjo, 1985).
Hukum Henry tidak berlaku untuk gas
yang larut dalam zat cair tetapi bereaksi dengan pelarutannya sepetrti NH3
dan HCl dalam air. Bila Ada campuran gas, maka hukum Henry berlaku untuk
masing-masing gas, sedang tekananya diambil tekanan parsial gas yang
bersangkutan. menurut hukum Henry fraksi mol dari gas yang terlarut berbanding
lurus dengan tekanan gas, ini berarti bila fraksi mol gas pada satu tekanan
diketahui, dapat dihitung fraksi mol gas pada tekanan yang lain. Kelarutan gas dapat dinyatakan sebagai fraksi mol atau
persen mol (Sukardjo, 1985).
Amonia adalah gas tajam yang tidak berwarna (titik didih
-33,5˚C). Cairan mempunyai panas penguapan yang besar (1,37 kJ g -1
pada titik titinya) dan dapat ditangani dengan peralatan laboratorium yang
biasa. Cairan NH3 mirip air dalam perilaku fisiknya bergabung dengan
sangat kuat melalui ikatan hidrogen. Tetapan dielektriknya (-22 pada -34 ˚C; kira-kira 81 untuk H2O
pada suhu 25 ˚C) cukup tinggi untuk membuatnya sebagai pelarut pengion yang baik.
Pengionan dirinya cukup tinggi (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Amoniak, memiliki tiga atom hidrogen yang dapat mengalami solvolisis dengan halida
logam untuk menghasilkan tiga jenis umum deratives, dan nitrit. Banyak amida , atom hidrogen yang
tersisa sudah terlebih dahulu telah
diganti dengan kelompok organik,
yang dapat membantu sintesis dengan mencegah solvolisis lanjut (Wulfsberg, 1991).
Cairan NH3 mempunyai kereaktifan
lebih rendah daripada H2O terhadap logam elektropositif dan
melarutkan banyak diantaranya. Karena NH3 mempunyai tetapan
dielektrik yang jauh lebih rendah daripada air, NH3 adalah pelarut yang baik bagi senyawaan organik namum umunya adalah
pelarut yang lebih buruk bagi senyawa organik ionik. Pengecualian terjadi bilamana pengompleksan dengan NH3 menonjol daripada air. Tidak larut dalam air namun sangat larut dalam NH3. Bilangan solvasi primer kation dalam NH3 tampak mirip dengan dalam H2O,
misalnya, 5,0 ± 0,2 dan 6,0 ± 0,5 berturut-turut untuk Mg2+ dan Al3+ dan amoniak
terbakar di udara (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Gas sangat sensisitif
terhadap perubahan temperatur dan tekanan. Gas mudah sekali ditekan dan
dikembangkan, dapat mengisi semua bagian bejana yang ditempati, berapapun
besarnya bejana tersebut. Berlainan dengan gas, cairan dan padatan hanya
sedikit sekali dapat ditekan atau dikembangkan (Sukardjo, 1984).
Gas amoniak (NH3) dapat terbentuk sebagai
hasil penguraian/pembusukan
protein yang terdapat dalam limbah atau sampah organik, baik yang berasal dari
limbah rumah tangga maupun industri. Gas amoniak berbau busuk dan jika terhirup dalam
pernafasan dapat berakibat mengganggu kesehatan, molekul amoniak (NH3) biasanya membentuk
ion amonium (NH4+). Dengan demikian, kadar amoniak dalam
air atau limbah cair selalu ditentukan sebagai ion ammonium (Banon
dan Suharto, 2008).
Amonia dalam industri dibuat dengan
proses haber dimana reaksinya berjalan pada 400 -500 ᵒC dan tekanan
102-103 atm dengan adanya katalis. Meskipun kesetimbangan lebih disukai pada
suhu rendah, dan dengan adanya katalis terbaik, suhu yang tinggi diperlukan
untuk laju yang memuaskan (Cotton dan
Wilkinson, 1989).
Pembakaran gas dengan sistem pengolahan CO2 berbasis amonia dari pembangkit
listrik berbahan bakar superkritis dan kinerja dan biaya perkiraan yang
dibandingkan dengan sistem ( Versteeg dan Rubin, 2011).
Untuk sistem
amonia efisiensi absorben menangkap CO2, NH3 slip,
dievaluasi untuk perubahan konsentrasi larutan NH3, rasio NH3/CO2, dan
suhu absorben. Penurunan NH3 Slip juga dinilai untuk perubahan suhu absorben. Untuk 90 % menangkap CO2 biaya (Versteeg dan Rubin, 2011).
dievaluasi untuk perubahan konsentrasi larutan NH3, rasio NH3/CO2, dan
suhu absorben. Penurunan NH3 Slip juga dinilai untuk perubahan suhu absorben. Untuk 90 % menangkap CO2 biaya (Versteeg dan Rubin, 2011).
Amonia sangat larut dalam air, NH3
cair merupakan pelarut yang sangan mirip dengan air kecuali bahwa
otodisosiasinya, otodisosiasinya adalah zat terlarut yang tidak bertabrakan
dan bahkan nilainya sangat lebih kecil. Meskipun
larutan dalam air umumnya berkaitan
dengan larutan basa lemah NH4OH disebut amonium hidroksida. Garam
amnium umumnya mirip dengan garam kalium dengan rubidium dalam hal kelarutan
dan struktur karena ketiga ion tersebut jari-jarinya sebanding NH4+
(Cotton dan wilkinson, 1989).
Ion-ion amonium
diturunkan dari amonia, NH3 dan ion H+. Ciri khas dari
ion ini adalah serupa dengan ciri khas ion logam alkali. Dengan elektrolisis
memakai katoda dari merkurium dapat dibuat amonium amalgam yang serupa dengan
amalgam dari natrium atau kalium (Svehla, 1979).
Garam-garam amonium
umumnya adalah senyawa-senyawa yang larut dalam air, dengan membentuk larutan
tidak berwarna (kecuali bila anoinnya berwarna). Dengan pemanasan, semua garam
amonium terurai menjadi amonia dan asam yang sesuai. Kecuali jika asamnya tidak
mudah menguap, gaaram amonium dapat dihilangkan secara kuantitatif dari
campuran kering dengan pemanasan
(Svehla, 1979).
Identifikasi amonium
dapat dilakukan dengan menggunakan reagensia Nessler (larrutan basa dari kalium
tetraiodomerkurat(II). Endapan coklat atau pewarna coklat atau kuning
dihasilkan sesuai dengan jumlah amonia atau ion amonium yang terdapat (Svehla,
1979).
BAB III
METODE
PERCOBAAN
3.1. Bahan
Bahan-bahan
yang digunakan pada percobaan ini adalah serbuk NH4Cl, serbuk Ba(OH)2, Indikator
fenolftalein (PP), dan akuades, tissue roll, aluminium foil.
3.2.
Alat
Alat-alat yang digunakan pada
percobaan ini adalah erlenmeyer 50 mL,
prop karet, pipet tetes, selang, heating mantle, dan neraca analitik.
3.3 Prosedur Percobaan
Dua buah erlenmeyer 50 mL di siapkan, erlenmeyer pertama dimasukkan serbuk
NH4Cl sebanyak 2,5 g dan ditambahkan serbuk
Ba(OH)2 sebanyak 0,92 g,
kemudian dihomogenkan dan ditutup rapat menggunakan prop karet. Erlenmeyer
kedua dimasukkan akuades 50 mL dan ditambahkan 4 tetes indikator fenolftalein
(PP). Duah buah
erlenmeyer tersebut dihubungkan menggunakan selang. Erlenmeyer pertama
dipanaskan sampai terbentuk warna merah muda dan keluar gelembung gas pada
erlenmeyer kedua. Setelah itu amati perubahan warna yang terbentuk. Gas
amoniak yang terbentuk akan bereaksi dengan air membentuk basa dengan indikator
PP, warna larutan akan berubah menjadi
merah muda.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan Terhadap Gas Amoniak
No.
|
Zat yang bereaksi
|
Pengamatan
|
1.
|
NH4CL
(s) + Ba(OH)2 (s)
|
Warna putih
|
2.
|
NH4CL (s) + Ba(OH)2 (s)
dipanaskan
|
Padatan BaCl2
Terbentuk air dan gas
Amoniak
|
3.
|
Gas amoniak + indikator fenolftalein (PP) dalam air
|
Air menjadi warna merah
mudah
|
4.2 Reaksi
4.3
Perhitungan
Mol NH4Cl =
=
= 0,0467 mol
Mol Ba(OH)2 =
=
= 0,0053 mol
2NH4Cl (s) +
Ba(OH)2 (s) →
2NH3 (g) + BaCl2
(s) + 2H2O (l)
M :
0,0467 0,0053
S :
0,0361 mol - 0,0106 mol
0,0053 mol
0,0106 mol
Mol NH3
= 0,0106 mol
Massa NH3 = mol
NH3 x Mr NH3
=
0,0106 mol x 17 g/mol
=
0.1802 g
4.3
Pembahasan
Amoniak adalah senyawa
yang mempunyai bau yang khas. Disamping dua komponen tersebut campuran juga
berisi inlet dan gas-gas yang dibatasi kandungannya, seperti Argon (Ar) dan
Methan (CH4).
Pada
percobaan ini, sintesis amoniak dibuat
dengan pencampuran antara garam NH4Cl dan Ba(OH)2.
Caranya yaitu, dengan mencampurkan serbuk NH4Cl dan serbuk Ba(OH)2,
kemudian dipanaskan secara
perlahan di atas elektromantle
karena prinsip kerja heating
mantle ini, pemanasannya
tidak boleh langsung pada suhu tinggi.
Pada
saat serbuk NH4Cl dicampur dengan Ba(OH)2, campuran
serbuk tersebut tetap berwarna putih.
Campuran serbuk itu lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer pertama, kemudian
dihubungkan dengan erlenmeyer kedua
menggunakan selang. Setelah itu, campuran serbuk tersebut dipanaskan dengan
menggunakan heating mantle, hingga timbul gelembung gas dan warna merah muda
pada labu erlenmeyer kedua. Sebelum pemanasan campuran tersebut agak sulit bereaksi, karena masing-masing
memiliki bilangan oksidasi 0. Setelah beberapa menit dipanaskan maka timbullah
gas amoniak. Untuk membuktikan adanya gas tersebut, maka di dalam labu
erlenmeyer yang berisi akuades, ditambahkan beberapa tetes indikator fenolftalein (PP).
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan
dapat disimpulkan bahwa telah terbentuk gas amoniak sebanyak 0,812 g setelah mereaksikan NH4Cl
padat dengan Ba(OH)2 padat.
5.2
Saran
5.2.1
Saran Untuk Laboratorium
Alat yang digunakan
sudah memadai sehingga pratikum dapat berjalan lancar.
5.2.2 Saran Untuk Percobaan
Adapun
saran saya adalah sebaiknya pada percobaan sintesis gas ini dilakukan sintesis
gas yang lain, bukan hanya sintesis gas amoniak agar pengetahuan praktikan
dapat bertambah.
DAFTAR PUSTAKA
Banon, C., dan Suharto T.E., 2008, Adsorpsi Amoniak Oleh Adsorben Zeolit Alam Yang
Diaktivasi Dengan Larutan Amonium Nitrat, Jurnal
Gradien, (Online),
4 (2): 354-360.
Cotton, F.A. dan Wilkinson, G., 1989, Kimia Anorganik Dasar, Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Sukardjo, 1985, Kimia Organik, Bina Aksara, Yogyakarta.
Svehla, G., 1979, Analisis Anorganik Kualitatif Anorganik Makro dan Semimakro, PT Kalman Media Pustaka, Jakarta.
Versteeg, P., dan Rubin, E.S., 2011, A Technical and Economic Assessment of Ammonia-Based Post-Combustion CO2
Capture at Coal-fired Power Plants, International Journal of Greenhouse Gas Control, (Online), 5 (1): 1596–1605.
Wulfsberg, G., 1991, Principle Of Descriptive Inorganic Chemistry,
University Science Books, California.
LEMBAR PENGESAHAN
Makassar, 22 April 2014
Asisten
Praktikan
(Sarwina Hafid) (Regu III)
BAGAN KERJA
BAGAN KERJA
![]() |
![]() |
- Dimasukkan serbuk NH4Cl 2,5 g - Dimasukkan akuades ± 50 mL
- Ditambahkan serbuk
Ba(OH)2 0,92 g
- Ditambahkan 4 tetes indikator
- Dihomogenkan fenolftalein (PP)
- Ditutup rapat menggunakan prop
karet - Ditutup dengan aluminium foil
- Dihubungkan menggunakan selang
- Erlenmeyer (a) dipanaskan
menggunakan lampu spiritus
- Diperhatikan gelembung gas pada erlenmeyer (b)
- Diamati perubahan yang terjadi pada erlenmeyer
(b)
|
LAMPIRAN
Gambar

Gambar 1. Di hubungkan menggunakan selang dan di
panaskan

Gambar 2. Proses pemanasan dan terbentuk warna
pada erlenmeyer



No hay comentarios.:
Publicar un comentario