miércoles, 24 de septiembre de 2014

PEMBUATAN GAS AMONIAK (NH3)



LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ANORGANIK


PERCOBAAN VI
PEMBUATAN GAS AMONIAK (NH3)


NAMA                                    : YUNITA PARE ROMBE (H31112012)
                                                  NURHARDIANTI (H31112265)
                                                  HANUNG ROHANI (H31112001)
KELOMPOK/ REGU            : III(TIGA)/III(TIGA)
HARI/TANGGAL PERC.     : SELASA/22 APRIL 2014
ASISTEN                               : SARWINA  HAFID



logo-uh
 




















LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang  A
Amoniak adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Walaupun amoniak memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, amoniak sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan. Amoniak bersifat gas yang tidak  mudah terbakar dan digolongkan sebagai bahan beracun jika terhirup.
     Gas amoniak dapat disintesis dengan beberapa cara. Salah satunya yaitu dengan metode sintesis dari bahan baku NH4Cl dengan Ba(OH)2. Cairan amonia mempunyai panas penguapan yang besar (1,37 kJ g -1 pada titik didinya) dan dapat ditangani dengan peralatan laboratorium yang biasa. Cairan NH3 mirip air dalam perilaku fisiknya bergabung dengan sangat kuat melalui ikatan hidrogen. Tetapan dielektriknya (-22 pada -34˚C; kira-kira 81 untuk H2O pada suhu 25 ˚C) cukup tinggi untuk membuatnya sebagai pelarut pengion yang baik. Pengionan dirinya.
 Karena NH3 mempunyai tetapan dielektrik yang jauh lebih rendah daripada air,   NH3 adalah pelarut yang baik bagi senyawaan organik namum umunya adalah pelarut yang lebih buruk bagi senyawa organik ionik. Cairan NH3 mempunyai kereaktifan lebih rendah daripada H2O terhadap logam elektropositif.
Amoniak memiliki bau yang sangat pekat, apabila terhirup bias menyebabkan gangguan pernapasan, amoniak di alam dapat dibuat dalam skala industri dan laboratorium. Berdasarkan  dari hal-hal diatas, maka dianggap perlu untuk melakukan percobaan cara pembuatan gas amoniak (NH3).  
1.2. Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara pembuatan gas amoniak (NH3).  

1.2.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dilakukan   percobaan ini adalah :
1.      Mensisntesis gas amoniak dari NH4Cl padat dengan Ba(OH)2 pada
2.      Mengidentifikasi gas amoniak yang dihasilkan dengan indikator fenolftalein (PP).
1.3. Prinsip Percobaan
       Prinsip dilakukannya percobaan ini adalah  Membuat dan mengidentifikasi gas amoniak (NH3) dengan mereaksikan padatan NH4Cl yang ditambahkan dengan padatan Ba(OH)2. Gas NH3  diidentifikasi dengan  indikator PP. jika warna air berubah menjadi warna merah muda, berarti gas NH3 telah dihasilkan.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hukum gas yang pertama, didapatkan oleh Robert Boyle tahun 1661. Pada temperatur tetap, volume dari sejumlah tertentu gas berbanding terbalik  dengan tekannanya. Untuk jumlah  gas tertentu  pada temperatur yang tetap maka tekanan dan volume tetap. Gas yang umum terdapat dialam atau gas sejati seperti N2, CO2 agak menyimpang dari sifat-sifat ideal, namun mendekati sifat ideal pada tekanan sangat rendah atau temperatur tinggi, karena volume gas sangat dipengaruhi oleh temperatur dan takanan, maka untuk membandingkan volume dari gas-gas, temperatur dan takanan harus sama. Tekanan standar gas diambil 1 atm atau             76 cmHg sedang temperatur standar diambil 0 C atau 273 K  (Sukardjo, 1985).
Menurut hukum Dalton, bila beberapa gas yang tidak dapat bereaksi dicampur maka tekanan total gas sama dengan jumlah tekanan parsialnya. Tekanan parsial adalah tekanan gas,  bila gas tersebut sendirian ada dalam ruangan     (Sukardjo, 1985).
 Salah  satu sifat-sifat gas adalah  teori kinatik gas, gas yang terdiri dari partike-partikel diskrot yang  disebut  molekul yang selalu bergerak cepat, gerakannya melalui jalan yang lurus. Pada tumbuhan dengan molekul-molekul lain atau dengan dinding bejana, kecepatannya tidak berubah, kecuali bila tekanan sangat besar, jarak antara molekul-molekul sangat jauh dari volume   masing-masing molekul sangat kecil bila dibandingkan dengan volume dari sistem dan          molekul-molekul tidak mempunyai daya tarik satu terhadap yang lain           (Sukardjo, 1985).
Hukum Henry tidak berlaku untuk gas yang larut dalam zat cair tetapi bereaksi dengan pelarutannya sepetrti NH3 dan HCl dalam air. Bila Ada campuran gas, maka hukum Henry berlaku untuk masing-masing gas, sedang tekananya diambil tekanan parsial gas yang bersangkutan. menurut hukum Henry fraksi mol dari gas yang terlarut berbanding lurus dengan tekanan gas, ini berarti bila fraksi mol gas pada satu tekanan diketahui, dapat dihitung fraksi mol gas pada tekanan yang lain. Kelarutan  gas dapat dinyatakan sebagai fraksi mol atau persen mol      (Sukardjo, 1985).
Amonia adalah gas tajam yang tidak berwarna (titik didih -33,5˚C). Cairan mempunyai panas penguapan yang besar (1,37 kJ g -1 pada titik titinya) dan dapat ditangani dengan peralatan laboratorium yang biasa. Cairan NH3 mirip air dalam perilaku fisiknya bergabung dengan sangat kuat melalui ikatan hidrogen. Tetapan dielektriknya (-22 pada -34 ˚C; kira-kira 81 untuk H2O pada suhu 25 ˚C) cukup tinggi untuk membuatnya sebagai pelarut pengion yang baik. Pengionan dirinya cukup tinggi (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Amoniak,  memiliki tiga atom hidrogen yang dapat mengalami solvolisis dengan halida logam untuk menghasilkan tiga jenis umum deratives, dan nitrit. Banyak amida , atom hidrogen yang tersisa sudah terlebih dahulu telah diganti dengan kelompok organik, yang dapat membantu sintesis dengan mencegah solvolisis lanjut (Wulfsberg, 1991).
              Cairan NH3 mempunyai kereaktifan lebih rendah daripada H2O terhadap logam elektropositif dan melarutkan banyak diantaranya. Karena NH3 mempunyai tetapan dielektrik yang jauh lebih rendah daripada air,  NH3  adalah pelarut yang baik bagi senyawaan organik namum umunya adalah pelarut yang lebih buruk bagi senyawa  organik  ionik. Pengecualian  terjadi  bilamana  pengompleksan  dengan NH3  menonjol  daripada  air.  Tidak   larut  dalam air namun sangat larut dalam NH3.  Bilangan solvasi primer kation dalam NH3 tampak mirip dengan  dalam H2O,  misalnya,  5,0 ± 0,2  dan  6,0 ± 0,5  berturut-turut untuk Mg2+ dan Al3+  dan amoniak terbakar di udara (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Gas sangat sensisitif terhadap perubahan temperatur dan tekanan. Gas mudah sekali ditekan dan dikembangkan, dapat mengisi semua bagian bejana yang ditempati, berapapun besarnya bejana tersebut. Berlainan dengan gas, cairan dan padatan hanya sedikit sekali dapat ditekan atau dikembangkan                      (Sukardjo, 1984).
Gas amoniak (NH3) dapat terbentuk sebagai hasil penguraian/pembusukan protein yang terdapat dalam limbah atau sampah organik, baik yang berasal dari limbah rumah tangga maupun industri. Gas amoniak berbau busuk dan jika terhirup dalam pernafasan dapat berakibat mengganggu kesehatan, molekul amoniak (NH3) biasanya membentuk ion amonium (NH4+). Dengan demikian, kadar amoniak dalam air atau limbah cair selalu ditentukan sebagai ion ammonium                             (Banon dan Suharto, 2008).
Amonia dalam industri dibuat dengan proses haber dimana reaksinya berjalan pada 400 -500 C dan tekanan 102-103 atm dengan adanya katalis. Meskipun kesetimbangan lebih disukai pada suhu rendah, dan dengan adanya katalis terbaik, suhu yang tinggi diperlukan untuk laju yang memuaskan                                    (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Pembakaran  gas  dengan sistem pengolahan  CO2 berbasis amonia dari pembangkit listrik berbahan bakar  superkritis dan kinerja dan biaya perkiraan yang dibandingkan dengan sistem ( Versteeg dan Rubin, 2011).
Untuk sistem amonia efisiensi absorben menangkap CO2, NH3 slip,
dievaluasi untuk perubahan konsentrasi larutan NH3, rasio NH3/CO2, dan
suhu absorben. Penurunan NH3 Slip juga dinilai untuk perubahan suhu absorben. Untuk 90 % menangkap CO2 biaya (Versteeg dan Rubin, 2011).
Amonia sangat larut dalam air, NH3 cair merupakan pelarut yang sangan mirip dengan air kecuali bahwa otodisosiasinya, otodisosiasinya adalah zat terlarut yang tidak bertabrakan dan  bahkan nilainya sangat lebih kecil. Meskipun  larutan dalam air umumnya berkaitan dengan larutan basa lemah NH4OH disebut amonium hidroksida. Garam amnium umumnya mirip dengan garam kalium dengan rubidium dalam hal kelarutan dan struktur karena ketiga ion tersebut jari-jarinya sebanding NH4+  (Cotton dan wilkinson, 1989).
Ion-ion amonium diturunkan dari amonia, NH3 dan ion H+. Ciri khas dari ion ini adalah serupa dengan ciri khas ion logam alkali. Dengan elektrolisis memakai katoda dari merkurium dapat dibuat amonium amalgam yang serupa dengan amalgam dari natrium atau kalium (Svehla, 1979).
Garam-garam amonium umumnya adalah senyawa-senyawa yang larut dalam air, dengan membentuk larutan tidak berwarna (kecuali bila anoinnya berwarna). Dengan pemanasan, semua garam amonium terurai menjadi amonia dan asam yang sesuai. Kecuali jika asamnya tidak mudah menguap, gaaram amonium dapat dihilangkan secara kuantitatif dari campuran kering dengan pemanasan           (Svehla, 1979).
Identifikasi amonium dapat dilakukan dengan menggunakan reagensia Nessler (larrutan basa dari kalium tetraiodomerkurat(II). Endapan coklat atau pewarna coklat atau kuning dihasilkan sesuai dengan jumlah amonia atau ion amonium yang terdapat (Svehla, 1979).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1.  Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah serbuk NH4Cl, serbuk Ba(OH)2, Indikator fenolftalein (PP), dan akuades, tissue roll, aluminium foil.

3.2. Alat
Alat-alat  yang digunakan pada percobaan ini adalah erlenmeyer 50 mL,    prop karet, pipet tetes, selang, heating mantle, dan neraca analitik.

3.3 Prosedur Percobaan
Dua  buah erlenmeyer 50 mL di siapkan, erlenmeyer pertama dimasukkan serbuk NH4Cl sebanyak 2,5 g dan  ditambahkan serbuk Ba(OH)2 sebanyak 0,92 g, kemudian dihomogenkan dan ditutup rapat menggunakan prop karet. Erlenmeyer kedua dimasukkan akuades 50 mL dan ditambahkan 4 tetes indikator fenolftalein (PP). Duah  buah erlenmeyer tersebut dihubungkan menggunakan selang. Erlenmeyer pertama dipanaskan sampai terbentuk warna merah muda dan keluar gelembung gas pada erlenmeyer kedua. Setelah itu amati perubahan warna yang terbentuk. Gas amoniak yang terbentuk akan bereaksi dengan air membentuk basa dengan indikator PP,  warna larutan akan berubah menjadi merah muda.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan  Terhadap Gas Amoniak

No.
Zat yang bereaksi
Pengamatan
1.
NH4CL (s)  + Ba(OH)2 (s)
Warna putih
2.
NH4CL (s) + Ba(OH)2   (s)  dipanaskan
Padatan BaCl2
Terbentuk  air dan gas Amoniak
3.
Gas amoniak + indikator fenolftalein (PP) dalam air
Air menjadi warna merah mudah

4.2 Reaksi
2NH4Cl (s)  + Ba(OH)2 (s)               2 NH3  +  BaCl2   +  2H2O

4.3 Perhitungan
Mol NH4Cl     =     =  = 0,0467 mol
Mol Ba(OH)2  =  =  = 0,0053 mol
2NH4Cl (s)   +   Ba(OH)2 (s)        2NH3 (g)     + BaCl2 (s)   +  2H2O (l)
     M :    0,0467                0,0053
      T :    0,0053                0,0053              0,0106          0,0053         0,0106            
      S :    0,0361 mol              -             0,0106 mol      0,0053 mol     0,0106 mol

Mol NH3       = 0,0106 mol
Massa NH3   =  mol NH3  x  Mr NH3
                     =  0,0106 mol  x  17 g/mol
                     =  0.1802 g
4.3 Pembahasan
Amoniak adalah senyawa yang mempunyai bau yang khas. Disamping dua komponen tersebut campuran juga berisi inlet dan gas-gas yang dibatasi kandungannya, seperti Argon (Ar) dan Methan (CH4).
            Pada percobaan ini, sintesis amoniak dibuat  dengan pencampuran antara garam NH4Cl dan Ba(OH)2. Caranya yaitu, dengan mencampurkan serbuk NH4Cl dan serbuk Ba(OH)2,  kemudian dipanaskan secara perlahan di atas elektromantle karena prinsip kerja heating mantle ini, pemanasannya tidak boleh langsung pada suhu tinggi. 
            Pada saat serbuk NH4Cl dicampur dengan Ba(OH)2, campuran serbuk tersebut  tetap berwarna putih. Campuran serbuk itu lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer pertama, kemudian dihubungkan dengan  erlenmeyer kedua menggunakan selang. Setelah itu, campuran serbuk tersebut dipanaskan dengan menggunakan heating mantle, hingga timbul gelembung gas dan warna merah muda pada labu erlenmeyer kedua. Sebelum pemanasan campuran tersebut  agak sulit bereaksi, karena masing-masing memiliki bilangan oksidasi 0. Setelah beberapa menit dipanaskan maka timbullah gas amoniak. Untuk membuktikan adanya gas tersebut, maka di dalam labu erlenmeyer yang berisi akuades, ditambahkan beberapa tetes indikator fenolftalein (PP).
           









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa telah terbentuk gas amoniak sebanyak 0,812 g setelah mereaksikan NH4Cl padat dengan Ba(OH)2 padat.

5.2  Saran
5.2.1  Saran Untuk Laboratorium
Alat yang digunakan sudah memadai sehingga pratikum dapat berjalan lancar.

5.2.2 Saran Untuk Percobaan
            Adapun saran saya adalah sebaiknya pada percobaan sintesis gas ini dilakukan sintesis gas yang lain, bukan hanya sintesis gas amoniak agar pengetahuan praktikan dapat bertambah.











DAFTAR PUSTAKA


Banon, C., dan Suharto T.E., 2008, Adsorpsi Amoniak Oleh Adsorben Zeolit Alam Yang Diaktivasi Dengan Larutan Amonium Nitrat, Jurnal Gradien, (Online),
            4 (2): 354-360.

Cotton, F.A. dan Wilkinson, G., 1989, Kimia Anorganik Dasar, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Sukardjo, 1985, Kimia Organik, Bina Aksara, Yogyakarta.

Svehla, G., 1979, Analisis Anorganik Kualitatif Anorganik Makro dan Semimakro, PT Kalman Media Pustaka, Jakarta.

Versteeg, P., dan Rubin, E.S., 2011, A Technical and Economic  Assessment of Ammonia-Based Post-Combustion CO2 Capture at Coal-fired Power Plants, International Journal of Greenhouse Gas Control, (Online), 5 (1):           1596–1605.

Wulfsberg, G., 1991, Principle Of Descriptive Inorganic Chemistry, University Science Books, California.



























LEMBAR PENGESAHAN





































                                                                                       Makassar, 22   April 2014

                        Asisten                                                               Praktikan
 

       (Sarwina Hafid)                                                 (Regu III)
BAGAN KERJA








 



-  Dimasukkan serbuk NH4Cl  2,5 g                  - Dimasukkan akuades ± 50 mL
-  Ditambahkan serbuk Ba(OH)2  0,92 g           - Ditambahkan 4 tetes indikator
-  Dihomogenkan                                                  fenolftalein (PP)
-  Ditutup rapat menggunakan prop karet         - Ditutup dengan aluminium foil
                                                                          yang diberi lubang
-  Dihubungkan menggunakan selang
-  Erlenmeyer (a) dipanaskan menggunakan lampu spiritus
-   Diperhatikan gelembung gas pada erlenmeyer (b)
-   Diamati perubahan yang terjadi pada erlenmeyer (b)


Hasil menggunakan selang
 
 


















LAMPIRAN
Gambar


Gambar 1. Di hubungkan menggunakan selang dan di panaskan

Gambar 2. Proses pemanasan dan terbentuk warna pada erlenmeyer



No hay comentarios.:

Publicar un comentario

PENENTUAN KESEGARAN SUSU

BAB I PENDAHULUAN 1. 1   Latar Belakang Dasar ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu karena air susu adala...